Risalah MESI

Kekuatan Laut Internasional dalam Konflik Suriah

The Russian destroyer Smetlivy, seen in the background in 2008

(photo: Sergei Chuzavkov/AP) Kapal Perusak Russia Smetlivy (Latar Belakang). Kapal Ini dikirim ke Laut Mediteran sekitar September lalu

 

 

Kekuatan Laut Internasional dalam Konflik Suriah

Oleh Michael Yuli Arianto*

Perkembangan konflik bersenjata di Suriah yang berkepanjangan hingga kini belum juga memperlihatkan titik cerah. Terlebih dengan ditolaknya resolusi damai Jenewa oleh pihak oposisi,  hal ini mengindikasikan bahwa intervensi asing akan semakin terbuka lebar. Namun dengan melihat tulisan yang pernah diterbitkan sebelumnya dan hasil dari berbagai diskusi mengenai rumitnya konstelasi politik dan sistem faksional yang ada diantara kaum oposisi, membuat intervensi asing di Suriah—kecil kemungkinannya menjadi suatu intervensi unilateral.

Sebelum melihat bagaimana intervensi asing akan dilakukan terhadap Suriah, alangkah baiknya menengok siapa saja aktor yang potensial dalam mengintervensi Suriah dengan kepentingan dan motivasinya masing-masing, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, Israel, Iran, Rusia, dan Cina. Dapat dilihat bahwa AS dan Rusia memiliki kepentingan yang hampir sama dalam hal memberikan pengaruh sebagai sosok hegemon dunia, Eropa berkepentingan terkait urusan imigran, Iran bersanding dengan Suriah sebagai sekutu Syiah di dunia Arab, Suriah yang masih berselisih dengan Israel pasca Yom Kipur[1], serta Cina yang dikatakan menjadikan Suriah sebagai batu loncatan dalam politik untuk menginfiltrasi kawasan Timur Tengah dengan memanfaatkan situasi Amerika Serikat yang sedang kehilangan dominasi unilateralnya.

Terkait bagaimana intervensi tersebut dijalankan, terlihat dari alur intervensi politik  yang telah terjadi sejak tahun 2011 yang mana setiap pihak telah mengambil posisi masing-masing dalam forum-forum internasional, terutama dalam perundingan yang dilakukan oleh Dewan Keamanan PBB. Lalu intervensi tersebut berlanjut pada intervensi militer, yang mana analisa kemudian akan ditekankan pada bagaimana pasukan asing akan datang dan menginjakan kakinya di wilayah kedaulatan Suriah. Apabila memegang konsepsi Mahan tentang “sea power“, dan Mackinder tentang “heartland theory“, maka dapat dipahami bahwa intervensi militer menyoroti aspek kelautan sebagai akses utaman dalam melakukan intervensi ke suatu negara. Hal ini kemudian menjadi landasan bagi bahasan kali ini mengenai kekuatan laut internasional sebagai akses bagi intervensi militer terhadap Suriah oleh negara-negara asing, terutama yang paling potensial, dua kubu besar, Amerika Serikat dan Rusia.

Amerika Serikat merupakan negara dengan kekuatan laut terbesar di dunia yang memiliki segala potensi untuk menguasai lautan di sekitar Suriah. Melalui konsep sea-air battle –doktrin utama Angkatan Laut AS, AS sesumbar dapat menyelesaikan intervensi militernya tanpa menginjakan kakinya di wilayah suriah, seperti apa yang terjadi di Libya. Didukung dengan asumsi bahwa kekuatan AS mendapat dukungan dari Eropa, Israel, dan negara-negara Arab, maka logis apabila AS menjadi pemain utama dalam intervensi oleh negara-negara barat di Suriah.

Sebelum melangkah ke dalam analisa intervensi AS, terlebih dahulu mari kita lihat seteru Amerika Serikat dengan Rusia (yang saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet). Semenjak berakhirnya Perang Dunia Kedua, Rusia memahami jika armada lautnya belum mampu menandingi armada laut AS, mengingat kekuatan industri Rusia yang belum sebaik AS. Terlebih potensi bahari dua negara yang cukup timpang, dimana hampir seluruh wilayah pesisir AS dapat diarungi setiap tahun, sedangkan hanya sedikit pelabuhan Rusia yang dapat dilabuhi kapal saat musim dingin. Oleh karena itu, saat Perang Dingin Rusia lebih menerapkan doktrin asymetric warfare yang mengoptimalkan kemampuan kapal selam untuk menandingi kekuatan militer laut AS yang bertumpu pada kemampuan dari kapal induk.

Lalu dewasa ini, walaupun kekuatan laut Rusia mungkin tidak setangguh masa kejayaannya –ketika masih berstatus Uni Soviet, apabila mengacu pada teori Mahan tentang Kekuatan Laut, justru posisi geografis Rusia yang lebih dekat denagan Suriah lebih diuntungkan dibandingkan AS. Mackinder pun telah memberikan analisa yang baik tentang strategisnya posisi daratan Rusia untuk berperan aktif dalam politik internasional sebagai sebuah heartland. Dukungan dari Iran dan ‘kemesraan’ diplomasi dengan rezim di Suriah, yaitu Assad pun membuat posisi Rusia lebih unggul dibandingkan AS. Dan ketika intervensi militer benar-benar dilakukan oleh Rusia, maka mungkin tak akan jauh beda rasanya dengan berperang di home front mereka sendiri.

Terakhir adalah Cina,  sebagai negara yang telah bertransformasi menjadi pemain penting dalam politik, ekonomi, dan keamanan internasional, Cina dapat dikatakan belum memiliki kekuatan laut yang memadai. Namun kondisi ini tidak lantas ‘mengecilkan’ Cina untuk terlibat dalam intervensi di Suriah. Hal ini dibuktikan dengan proyek pembangunan dua kapal induk Cina, satu telah masuk tahap operasional dan satu lagi sedang masuk tahap rancang bangun, dengan tidak menegasikan faktor terkecil dalam menganalisa isu-isu internasional, terutama jika isu tersebut masih berlangsung dan belum memberikan kejelasan akan akhirnya. Proyek Cina tersebut merupakan aplikasi doktrin sea power yang dimiliki AS -negara dengan jumlah kapal induk terbanyak di dunia. Dan dari analisa teori sea power Mahan, dapat kita disimpulkan bahwa kapal induk merupakan inti dari kekuatan armada laut dengan kapasitas ocean going atau blue water navy. Kesimpulan tersebut dapat dilihat pengalaman dalam perang dunia kedua di Pasifik, dan sederet aksi unilateral AS di era 90-an. Sehingga dapat dikatakan apabila Cina sedang membangun kapasitas forward defense dengan meningkatkan kapasitas angkatan lautnya dalam mengarungi samudera. Akselerasi kekuatan militer Cina dari dekade 90-an hingga saat ini yang cukup cepat, membuat Angkatan Udara dan Angkatan Darat Cina mampu menyejajarkan posisinya dengan Angkatan Udara/Darat Amerika Serikat. Maka tidak menutup kemungkinan dalam dekade berikutnya atau bahkan lebih cepat, Cina akan mampu menyaingi Angkatan Laut Amerika Serikat di samudera. Melihat rumitnya isu konflik di Suriah dan masih banyaknya perang kepentingan di dalamnya, kemungkinan dicapainya perdamaian di Suriah dalam waktu dekat sangatlah impossible kecuali kepentingan-kepentingan tersebut pada akhirnya mampu diakomodasi.

 

*Pemerhati politik dan isu keamanan di kawasan Timur Tengah. sekaligus co-founder dari Middle East Studies Indonesia, sempat menjabat sebagai Koordinator Umum dari tahun 2011-2013, kini masih menyelesaikan skripsinya               

*Tulisan ini menggunakan pengertian dasar 1) Politics is a struggle for power 2) Dalam politik tidak ada lawan dan kawan, yang ada hanya kepentingan 3) There is no freelance. 


[1] Perlu diketahui bahwa hingga saat ini Israel dan Suriah masih berstatus perang karena belum terdapat adanya kesepakatan damai. Rezim Assad yang selama ini dipegang AS secara tidak langsung memberi jaminan jika AS akan mengusahakan agar kedua negara itu—meski belum damai, tetap dalam status gencatan senjata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s