Risalah MESI

Cinta dan Politik: Sepak Bola Turki

Cinta dan Politik : Sepak Bola Turki

Oleh Kishino Bawono*

 

Apakah salah untuk menghormati atau mencintai seseorang? Sedikit mengubah perkataan dari John Lennon pada salah satu wawancara sebelum pada akhirnya ia ditembak oleh Mark David Chapman,

” …it’s every man’s inalienable right to love who the hell they like. What’s it going to do, vanish? Is it not going to be there when I get back?”

Bukankah cinta adalah salah satu hal yang membuat manusia tetap hidup? Bukankah itu yang mendorong manusia untuk tetap bergerak? Berbagai bualan pemuka agama dan motivator dalam acara-acara di televisi tentunya telah menyajikan kata sakral tersebut, cinta. Dan bukankah ada nilai universal di dalamnya yang membuat rasa tersebut mampu hinggap seperti benalu di pepohonan, seperti jamur dan rumput liar di musim hujan?

Termasuk dalam Didier Drogba dan Emmanuel Eboue. Dua pemain asal Pantai Gading, Afrika ini baru saja mengalami perselisihan dengan TFF, Türkiye Futbol Federasyonu – PSSI dari Turki. Apa yang dipermasalahkan oleh TFF? Rezim TFF saat ini mempermasalahkan cinta dari Didier Drogba dan Emmanuel Eboue, sebagai sesama orang Afrika, terhadap Nelson Mandela yang beberapa hari lalu wafat.

Siapa Nelson Mandela sehingga ia perlu mendapatkan cinta dari kedua bintang Galatasaray ini? Tidak perlu dituliskan di sini, berbagai macam alat browsing di internet sudah mudah di akses dan berbagai cerita tentang Mandela sudah sepatutnya dikenal, atau paling tidak – pernah didengar oleh kita semua.

Drogba melepas seragam seusai pertandingan Galatasaray mengalahkan Elazigspor dan menunjukkan baju dengan tulisan ”Thank You Madiba”. Setali-tiga-uang dengan Drogba, Eboue memakai “Rest in Peace Nelson Mandela” dan menunjukkan bajunya setelah pertandingan. Mereka berdua memakai baju itu sebagai penghormatan atas Mandela, atas apa yang telah Mandela lakukan, atas pencapaian Mandela dan transformasi besar Afrika dan atas apa yang telah dicapai oleh Mandela.

Eboue Rest In Peace Nelson Mandela

Eboue Rest In Peace Nelson Mandela

Drogba: Thank You Madiba

Drogba: Thank You Madiba

Drogba dan Eboue mengenakan pakaian Mandela”)

Namun, cinta itu terganggu. TFF menganggap hal tersebut sebagai sebuah ekspresi politik.

…to summon the Galatasaray pair to appear before the Professional Football Discipline Committee because they had not sought prior permission to display their messages.” ungkap rencana TFF

TFF menganggap bahwa apa yang dilakukan mereka berdua sebagai tindakan yang membawa ekspresi politik ke dalam sepakbola, khususnya Turki.

 

Mungkin Mereka Lupa …

Mungkin mereka lupa, atau bahkan tidak tahu, atau mungkin mereka membuat penyangkalan bahwa politik itu omnipresent. Politik sama seperti Tuhan, jika anda percaya pada entitas superlatif ini. Omnipresence dari politik dan Tuhan itu sama, keduanya bisa ada di berbagai macam tempat di waktu yang sama. Politik ada dalam tiap pembahasan dan sektor dalam kehidupan manusia. Mulai dari spiritual, tentang bagaimana “kondisi spiritual” (baca: keagamaan) diatur oleh negara, baik negara sekular maupun teokratik, hingga ke ranah materialistik seperti sumberdaya alam, tentang pengaturan sumberdaya dan pengalokasiannya.

Mungkin mereka juga lupa, bahwa beberapa bulan yang lalu, UltrAslan, Carsi, dan Genc-Fenerbahceliler turun bersama dalam sebuah kesadaran untuk berkumpul dan bergerak melawan Edrogan dalam isu Taksim-Square. Mungkin mereka lupa bahwa ketiga pihak tadi adalah ultras, yakni bagian dari sepakbola yang tidak terpisahkan, dan mereka memiliki kesadaran politik dan berani mengungkapkan itu di jalanan bahkan juga di stadion mereka masing-masing. UltrAslan dari Galatasaray, Carsi dari Galatasaray, dan Genc-Fenerbahceliler dari Fenerbahce, turun ke jalan, mengikuti demonstrasi, mengungkapkan pandangan politik mereka, menentang rezim. Bukankah itu juga sebuah bentuk omnipresence dari politik dalam persepakbolaan?

Lagipula, mungkin mereka juga lupa bagaimana Suat Kilic, menteri Pemuda dan Olahraga Turki, mengritik mereka karena mengeluarkan kebijakan untuk memanggil Drogba dan Eboue atas hal itu.

Mungkin juga mereka lupa bahwa sebelum Drogba dan Eboue mencuat dengan ucapan, yang terbilang,  cukup “halus” dalam politik, jikalau itu memang ungkapan politik, ada Christiano Lucarelli dan Paolo di Canio yang sudah terlebih dahulu “berkata” lantang dan terbuka tentang pandangan politik mereka. Lucarelli dengan tegas menengadahkan clenched fist sebagai dukungannya pada komunisme dan menentang fasisme seperti yang dilakukan Brigate Autonome Livornesi (ultras Livorno) kepada fasisme dan rightish-ultras lainnya di Italia. Dan ini menjadi kutub yang berbeda dengan apa yang dilakukan Di Canio. Dia dengan Fascist Salute-nya yang menyuarakan apa yang dilakukan S.S. Lazio yang sebagaian ultras-nya dikaitkan dengan Benito Mussolini, pemimpin fasis Italia dalam era Perang Dunia II. Mungkin sebaiknya mereka juga melihat bagaimana kapten timnas mereka, Emre Belozoglu yang mengacungkan rabia, simbol resistensi orang-orang pro-Mursi di Mesir saat menentang rezim-yang-diduga militeristik di Mesir saat ini.

Emre Belozoglu dengan Rabia

Emre Belozoglu dengan Rabia

Fascist Salute di Canio

Fascist Salute di Canio

Lucarelli dengan tegas menengadahkan clenched fist

Lucarelli dengan tegas menengadahkan clenched fist

Dan cinta pada Mandela, seperti yang diungkapkan Drogba dan Eboue, sepatutnya tidak perlu dipermasalahkan oleh TFF. Atau mungkin mereka sedikit bermasalah dengan pergerakan Mandela sehingga hal tersebut mengingatkan mereka pada etnis Kurdi di bagian timur dari Turki yang kerap. bermasalah. Mungkin.

* Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada,

salah satu Co-Founder Middle East Studies Indonesia dan masih aktif sebagai kontributorMESI

 

Glossarium

  • Galatasaray is a Turkish sports club based in Istanbul‘s European side, most notable for its association football section.
  • Elazığspor is a football team located in ElâzığTurkey, which competes in the Turkish Super League.
  • UltrAslan is an ultras group who support Turkish football club Galatasaray.
  • Beşiktaş Çarşı Grubu (referred to simply as Çarşı) is the best known supporter group of BJK (Beşiktaş Gymnastics Club, notably including the Beşiktaş football club).
  • Genç Fenerbahçeliler (English: Young Fenerbahçe Supporters) is a supporter group of Turkish sports club Fenerbahçe S.K.. Founded in 1998 by the group leader Sefa Kalya (a.k.a. Sefa Reis).
  • Taksim Square (Turkish: Taksim Meydanı), situated in the European part of IstanbulTurkey, is a major tourist and leisure district famed for its restaurants, shops, and hotels. It is considered the heart of modern Istanbul, with the central station of the Istanbul Metro network.
  • Cristiano Lucarelli (born 4 October 1975 in LivornoItaly) is an Italian former footballer who played as a striker from 1992 until 2012.
  • Rabia or rabaa is a new symbolic gesture (which is made by raising four fingers, in the same manner as one would flash)  and become ‘the symbol of the massacre in Egypt and Rabaa al-Adawiya Square [in Cairo] where the anti-coup protests take place’.

 

References:

http://www.fifa.com/aboutfifa/news/newsid=1528544/

http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-2520210/Galatasaray-stars-Didier-Drogba-Emmanuel-Eboue-facing-fines-Turkish-FA-displaying-Nelson-Mandela-tributes-vests.html

http://www.un.org/en/documents/udhr/

 

*Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada,

salah satu Co-Founder Middle East Studies Indonesia dan masih aktif sebagai kontributorMESI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s