Review Film

Don’t Tell My Mother That I’m In: Iraq

Don’t Tell My Mother that I’m in: Iraq

Bunuel a1-001 

 

*Poster Movie Screening MESI

  “Andai semua orang di Iraq adalah penggemar musik death metal, mungkin konflik yang disebabkan karena adanya perbedaan tidak akan terjadi lagi di sini”   Genre             : Dokumenter Sutradara       : Diego Buñuel Deskripsi        : Pecinta National Geographic Adventure tentu tidak asing dengan tayangan Don’t Tell My Mother, sebuah program televisi yang dipandu dan disutradai sendiri oleh Si Tampan, Diego Buñuel. Terinspirasi dari sang ibu yang sering kali was-was  ketika ia ditugaskan ke negara-negara seperti Iraq, Afghanistan, hingga Republik Kongo sebagai koresponden asing untuk sebuah stasiun televisi Perancis—‘don’t tell my mother, it makes her really nervous’,   Don’t Tell My Mother rilis sekitar tahun 2008, menceritakan pengalaman-pengalaman Diego dalam menjelajahi  berbagai negara di dunia. Berbeda dengan acara jalan-jalan pada umumnya, tayangan ini tidak mengedepankan sisi liburan atau plesir melainkan hal-hal unik yang ada dalam negara yang dikunjungi seperti kebudayaan-kebudayaan lokal yang tidak banyak diketahui masyarakat dunia, problematika kehidupan warga lokal yang kerap dipicu oleh kondisi negaranya sendiri, dan hal-hal menarik lainnya. Dalam episode Don’t Tell My Mother: That I’m in Iraq, perjalanan Diego dimulai di kota legendaris, Baghdad. Namun amat disayangkan, jalan-jalan santai, interaksi yang hangat dengan para penduduk seperti pada episode sebelumnya, tidak tampak di ‘Kota Seribu Satu Malam’ tersebut. Ketatnya pengamanan karena kondisi negara tersebut yang belum benar-benar stabil pasca kericuhan era Saddam Hussein,  memaksa Diego dan timnya untuk terus berada dalam pengawasan bodyguard, khusus untuk menemani perjalanannya selama di Baghdad. Dalam tayangan tersebut, kondisi yang kini jauh lebih stabil dan kondusif di Baghdad telah mendukung dibukanya Christian Corner—pasar saham yang kini kembali dilirik dan mulai dipercaya sebagai tempat bisnis yang cukup baik karena saham tertinggi yang dipegang berasal dari sektor perhotelan. Ajaibnya, pasar saham christian corner mampu menjembatani perbedaan seperti suku, latar belakang dan agama orang-orang yang berkegiatan disana. Tidak hanya work in Stock Market, masyarakat di Baghdad juga mulai gemar work out; mengunjungi pusat-pusat kebugaran untuk membentuk badan agar lebih kuat. Hal ini tidak semerta-merta karena mereka ingin tampil lebih fit atau memiliki tubuh yang lebih menarik, tingginya angka kriminalitas di Baghdad dan pentingnya keamanan membuat mereka (laki-laki terutama) memilih untuk menjadikan bodyguard sebagai mata pencahariannya. Banyak remaja yang sudah mulai berlatih di pusat kebugaran tersebut sebagai persiapan menjadi bodyguard. Mencari pekerjaan yang layak di Baghdad sudah menjadi hal yang sulit. Bodyguard kini sangat dibutuhkan sehingga pekerjaan ini menjadi pilihan utama. Hal lain yang menjadi daya tarik di Baghdad adalah perkumpulan penggemar atau fans musik death metal. Mereka biasa berkumpul dan mendengarkan lagu-lagu death metal yang dibawakan sebuah band dengan mengenakan atribut-atribut khas death metal seperti kaos hitam serta model rambut dan janggut yang panjang. Hal ini menjadi sangat unik karena pada dasarnya di Iraq, hitam adalah warna yang melambangkan syiah dan rambut serta janggut panjang melambangkan sunni. Perpaduan antar dua kelompok yang sangat berbeda paham. Kembali, semua penggemar musik death metal berasal dari berbagai kalangan, tidak memandang apakah dia berasal dari syiah atau sunni. Salah seorang penggemar berkata, “Andai semua orang di Iraq adalah penggemar musik death metal, mungkin konflik yang disebabkan karena adanya perbedaan tidak akan terjadi lagi di sini”. Kota lain yang tak kalah menarik adalah suatu kota penyimpanan minuman keras di daerah Iraq Kudsi dekat perbatasan Iraq dan Iran. Siapa sangka bahwa wilayah ini bukan hanya menjadi tempat favorit bagi para penikmat minuman alkohol, namun juga para pejabat dan mullah atau pimpinan agama. Wilayah ini menjadi pusat perdagangan minuman keras bahkan hingga diimpor ke negara tetangganya, Iran. Terdapat pula museum di kota Sulaymaniyah yang menampilkan diorama kekejaman pemerintah dalam menyiksa kaum Iraq kudsi yang juga dikunjungi oleh anak-anak sebagai pembelajaran sejarah bagi mereka. Di akhir perjalanan, Diego mengunjungi kota Najaf, pusat kelompok aliran Syiah dimana terdapat makam kaum Syiah terbesar di dunia dengan masih mengusung tradisi pemakaman tradisional yang telah ada sejak 1.300 tahun silam. Tayangan ini benar-benar membuka mata para penonton, memberikan pembelajaran dan wawasan baru, Iraq yang dikenal masyarakat luas tidak melulu ribet dengan persoalan konflik antar kelompok maupun huru hara dengan Amerika. Mereka punya cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk bekerja, untuk bersenang-senang dan melupakan sejenak atas segala hiruk pikuk yang ada. Walaupun kemegahan ‘Kota Seribu Satu Malam’ tak sama lagi, namun keunikannya tak perlu di sanggah lagi.     Lizky Nui Hapsari Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada 2013 Penulis merupakan staff Project Division Middle East Studies Indonesia periode 2013-2014 Edited by : Delta Anggara Putri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s