MESIKlopedia

Mursi, Menggali Kuburnya Sendiri Rakyat Berpesta

Mursi, Menggali Kuburnya Sendiri

Rakyat Berpesta

Oleh: Hestutomo Restu Kuncoro*

Layaknya sebuah roller coster, lembaran cerita di Mesir mengalami ups and downs. Keotoriteran diktator, gelombang demonstrasi, kelengseran diktator, pemilu, masalah di pemerintahan, demonstrasi, kudeta, pergantian pemimpin, problema, lalu demonstrasi (atau kerusuhan) lagi, silih berganti mewarnai politik Mesir. Banyak hal yang bisa dipaparkan dua tahun terakhir ini, dan mungkin beberapa waktu akan datang di Mesir, dimana seolah-olah dunia mencoba menempatkan dinamika politik satu dekade Mesir hanya dalam beberapa tahun saja.

Mesir, memang bukan satu-satunya negara Timur Tengah yang mengalami gejolak dalam politik pemerintahannya. Seperti sebuah tren, negara-negara di Timur Tengah mengalami kepelikan yang khas, yaitu kudeta yang berakhir dengan lengsernya kediktatoran hingga semangat Arab Spring—misalnya seperti apa yang terjadi di Tunisia, juga seperti saat kini yang sedang diusahakan rakyat Suriah. Namun ada satu hal yang membuat Mesir berbeda dan menarik. Mesir adalah satu negara di timur Tengah yang berhasil menyelenggarakan pemilu paska lengsernya rezim diktator. Sayangnya, presiden terpilih justru dikudeta bahkan sebelum masa jabatannya genap dua tahun. Jatuhnya Mursi dari kursi kepresidenan, menimbulkan pertanyaan. Mengapa pemimpin pilihan rakyat dijatuhkan oleh rakyat sendiri dalam waktu yang relatif singkat?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, ada beberapa hal yang perlu dicatat dari proses pemilihan umum  Mursi yang (dianggap) demokratis. Di akhir pemilu, Mursi memang meraih suara terbanyak dengan perolehan suara 51,73 persen, sedangkan pesaingnya Ahmed Shafiq hanya meraih 48,27 persen suara, namun perolehan suara tersebut memiliki tingkat partisipasi pemilih hanya mencapai 51,8 persen dari 50 juta warga Mesir yang memiliki hak untuk memberikan suara.[1] Dengan jumlah turn-out voters total pemilih yang berpartisipasi yang hanya separuh tersebut menunjukan jika kemenangan Mursi adalah bias, karena artinya sebanyak 75% peserta pemilu di Mesir tidak mendukung Mursi sebagai Presiden.[2] Ini bahkan lebih sedikit daripada suara yang didapatkan Wiranto pada pemilu 2004 yang tidak berhasil lolos.

Kala itu, Mesir belum dalam kondisi yang cukup stabil, belum ada dukungan, baik covert maupun overt yang signifikan terhadap satu partai atau calon dan menjadi mimpi buruk bagi Mesir, khususnya kelompok revolusioner dalam pemilihan presiden putaran kedua tersebut, karena hanya terdapat dua kandidat yang lolos yaitu pertama Ahmad Syafiq, mantan Perdana Menteri Mubarrak terakhir; dan kedua, Mursi, seorang Ikhwanul Muslimin (IM) yang notabene bukan pribadi yang terlalu revolusioner. Dengan begitu, pilihan yang ada saat pemilihan presiden saat itu hanyalah memilih Mursi –seorang yang kurang revolusioner, atau memilih Syafiq—sisa-sisa dari orde Mubarrak yang otoriter di Mesir. Kemudian menjadi rational choice ketika orang-orang cenderung memilih Mursi sebagai satu kekuatan baru, terlepas dari kualitasnya dan platform politiknya, sehingga muncul asumsi jika Mursi terpilih bukan karena ia memang punya visi politik yang mengakomodasi sebagian besar tuntutan masyarakat Mesir, namun, Mursi terpilih karena ia adalah satu-satunya kandidat dalam putaran kedua yang bukan berasal dari orde Mubarrak.

Kenyataan diatas memberi penjelasan dan mempermudah analisa mengenai jatuhnya Mursi. Kesadaran bahwa Mursi bukanlah juru selamat yang didukung oleh mayoritas warga Mesir, membuat masyarakat dalam fungsi controllingnya lebih jeli mengkritisi sepak terjang Mursi, sehingga kesalahan kecil pun dampaknya bisa sangat besar. Dan memang, Mursi menciptakan banyak kesalahan sebagai Presiden.

Kesalahan pertama yang dibuat Mursi mugkin hanyalah kesalahan-kesalahan kecil. Cukup untuk membuat rakyat kesal, namun tidak cukup untuk membuatnya dibenci dan ditentang. Kesalahan-kesalahan tersebut seperti janji-janjinya yang tidak ditepati. Beberapa di antaranya adalah janji Mursi untuk mengangkat wakil presiden yang berasal dari kalangan kristen koptik dan wanita, serta menyelesaikan masalah sampah juga kemacetan di Kairo dalam jangka waktu 100 hari.

Atmosfir Mesir kemudian berubah dari “tenang menegangkan” menjadi “penuh konflik dan pertentangan” ketika Mursi melalui juru bicaranya, melucuti kekuasaan hakim-hakim di Mahkamah Konstitusi Mesir. Mursi juga mengangkat Jaksa Agung yang baru. Selain itu, kemarahan kelompok oposisi Mesir semakin menjadi-jadi ketika Mursi menyatakan bahwa rancangan konstitusi yang baru akan siap dalam satu pekan dan proses perancangan dilakukan secara eksklusif oleh kelompok islamis, tanpa melibatkan kelompok liberal dan revolusioner. Hal ini membuat kelompok liberal dan revolusioner di Mesir naik pitam. Mereka turun ke jalan dan akhirnya gelombang protes pun tidak tertahankan.

Terdapat benang merah yang dapat dilihat dari kisah Mesir di atas. Muncul ketidakseimbangan power dalam partai politik di Mesir, seperti IM yang memiliki mesin politik lebih kuat daripada lawan politiknya, sehingga IM lebih menonjol, bahkan ketika platform dan visi politiknya tidak sepenuhnya populer. Walaupun dikata sudah demokratis, Mesir seolah kehilangan esensi demokrasinya. Kegagalan demokrasi di Mesir yang seharusnya mampu mengakomodasi dan melibatkan seluruh elemen negara dalam proses politik, terlebih dalam proses pembuatan kebijakan, menyebabkan makna dari demokrasi sendiri dipertanyakan. Idealnya dalam demokrasi, semua partai politik memiliki akses dan  pengetahuan yang sama atas issue yang masuk sebagai input dalam proses politik, sehingga pilihan yang akan dibuat berdasarkan atas deliberasi rasional dan bukan hanya karena propaganda mesin politik partai tertentu. Ketidakseimbangan kapabilitas politik ini juga menyebabkan oposisi di Mesir layaknya buih. Banyak, namun hampir tidak bermakna. Kenyataan tersebut tergambar dalam pemilihan presiden yang lalu, 75% pemilih yang tidak mendukung Mursi terpecah-pecah dalam berbagai golongan sehingga oposisi bagi Mursi sangat minimum. Barulah oposisi menjadi lebih kuat ketika mereka membentuk National Salvation Front (NSF) untuk menentang Mursi. Namun NSF pun pada akhirnya retak tidak lama setelah Mursi turun, karena spektrum ideologi di dalamnya yang terlalu luas. Dalam keadaan seperti ini, mudah bagi IM mendapatkan kekuasaan secara “demokratis” walaupun sebenarnya secara substansial tidak sepenuhnya demokratis. Ini juga yang rasa-rasanya membuat Mursi terpeleset. Memenangkan pemilu mungkin membuat Mursi merasa mendapat dukungan yang luas dari masyarakat Mesir, sehingga ia berani memainkan permainan yang beresiko tinggi dan seolah melenggang seorang sendiri. Bandingkan dengan bagaimana Susilo Bambang Yudhoyo (SBY) –Presiden Republik Indonesia yang telah mendapatkan 60% suara dalam pemilu, namun masih merasa perlu merangkul beberapa partai besar lain dalam koalisinya. Mursi seakan terjebak dalam illusion of grandeur, karena kemenangan politiknya, dan mungkin juga karena relijiusitasnya. Oleh karena itu, Mursi menganggap dirinya seorang invincible yang berani dan siap menanggung berbagai macam resiko.

Oleh karena itu, pelajaran yang bisa diambil dari cerita Mesir yaitu, semangat demokrasi pada dasarnya selalu baik, namun menemukan tipe demokrasi yang cocok bagi suatu negara terlebih dahulu juga sangat penting. Tipe demokrasi yang tepat akan memastikan esensi demokrasi tidak memudar. Selain itu, pemimpin yang berkuasa di negara yang multikultural, apalagi stabilitas domestiknya masih sangat rentan, memerlukan usaha lebih untuk bisa merangkul semua kekuatan politik, bisa dengan membentuk koalisi dan kolaborasi. Sesuatu yang gagal dipahami oleh Mursi. Dan terakhir, ketika nanti pemerintahan baru telah terbentuk, semoga pemerintahan yang baru bisa memediasi semua konflik horizontal yang ada di sistem politik Mesir dalam sebuah koridor yang damai dan komunikatif, serta lebih akomodatif terhadap tuntutan rakyat.

 

*Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada,

salah satu Co-Founder Middle East Studies Indonesia dan masih aktif sebagai kontributor


[1] “Mohammed Mursi dari Ikhwanul Muslimin menang dalam Pilpres Mesir”, BBC Indonesia 24 Juni 2012, <http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/06/120624_mesir_pilpres.shtml&gt;, diakses pada 19 Oktober 2013.

[2] D.Y.Sulaeman, ‘Pemetaan Konflik Mesir’, Global Review (Online), 28 Juli 2013, <http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=12781&type=4#.UmIqYdJSjnh> diakses 19 Oktober 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s