Risalah MESI

Mesias: Utopia – Hope of Salvation

Anak-anak pengungsi Suriah menari di kamp pengungsian untuk menjaga harapan dan semangat. Mereka terpaksa meninggalkan kehidupan normal bagi seorang anak, termasuk pendidikan.

 Mesias, hope of salvation, Timur-Tengah.

“I was not a messiah, but an ordinary man who had become a leader because of extraordinary circumstances.” – Nelson Mandela.

Messiah atau Mesias (Indonesia), adalah sebuah  istilah, sebuah kata, yang berasal dari Bahasa Ibrani yang berarti penyelamat. Ya, ini identik dengan kepercayaan orang-orang Kristiani yang menganggap bahwa Yesus adalah Mesiah, adalah penyelamat manusia yang percaya padanya. Melalui proses mengimani diri-Nya, orang-orang diselamatkan di akhir-zaman. Terminologi ini memang berasal dari sana, tentang bagaimana satu orang atau satu pihak dapat dijadikan sebagai penyelamat seluruh bangsa atau sekelompok orang lainnya.

Bicara dengan lebih general, konsepsi ini sebenarnya bisa jadi luas sekali dan bisa dipakai sebagai hal yang universal.  Ya ,bisa. Kita hilangkan unsur personal dari konsep ini. Kita lepaskan ini dari keterikatan konsep mesias dari personifikasi Yesus Kristus atau Isa al Masih ini. Yang kita miliki sekarang adalah konsep mengenai salvatore[1] yang tidak harus berarti Yesus. Ya, cakupan konsep ini diperluas.

Karena sudah diperluas, maka bisa dimasukkan ke berbagai kondisi yang lebih khusus, dengan adaptasi tentunya.

Okay, kita mulai dari yang mudah, dari yang dekat kita saja. Indonesia, khususnya di Jawa. Dalam sejarah pernah kita dengar mengenai ratu adil. Ya, di awal tahun pergerakan nasional, ada sebuah gerakan bernama Angkatan Perang Ratu Adil. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang “tercerahkan” dan menantikan ratu adil. Bukan berarti membahas mengenai apa yang Raymond Westerling lakukan pada NKRI, namun mengenai konsepsi “Ratu Adil” ini.

Ini bukanlah nama orang, Ratu Adil adalah sebutan bagi seorang salvatore. Ini konsepsi messiah tadi. Dalam konsepsi Jawa yang terangkum dalam Jangka Jayabaya,[2] ratu adil ini adalah orang yang nanti akan menyelamatkan nusantara dan membawa nusantara pada kejayaan setelah mengalami “gara-gara”.[3] Orang ini yang digadang-gadang dan dinantikan akan membawa kebajikan menang di nusantara dan kejayaan Indonesia akan kembali. Bangsa-bangsa akan hormat pada Indonesia, Indonesia makmur, dan bla-bla-bla semua impian atas keindahan yang melebihi kondisi sekarang ini.

Kembali ke wilayah Timur-Tengah, ada dua contoh yang bisa dihadirkan lagi di sini. Pertama orang-orang Essenes. Ini adalah orang-orang yang kini telah “punah”, telah hilang rekaman kelanjutan keturunannya dalam sejarah. Essenes ini adalah orang-orang Yahudi. Mereka ada di era dimana wilayah Yudea sudah dikuasai oleh orang-orang Romawi.[4] Secara khusus mereka ada di wilayah Qumran. Dalam sebuah dokumenter dari History Channel, ini pernah dibahas secara khusus dalam Cities of Underworld di season dua.

Dalam pembahasannya, Essenes adalah Yahudi seperti lainnya, namun mereka membuat sebuah komunitas sendiri, sebuah komunitas eksklusif, hanya berisi orang-orang Essenes ini. Siapa mereka secara lebih detil? Mereka adalah orang yang merasa “lebih pure” daripada yang lain, mereka menganggap mereka mempelajari esensi dalam ajaran yang diterima orang Yahudi, yang mereka realisasikan dengan apa yang disebut Scroll of The Dead Sea atau Dead Sea Scroll. Perkamen ini memiliki dua bagian, scroll of giants dan scroll of war. Satu yang penting dalam dua hal ini adalah inspirasi mereka atas keselamatan mereka.

Dalam Scroll of War dijelaskan mengenai perang besar, perang habis-habisan antara kebaikan dan kejahatan di dunia. Mereka memposisikan diri sebagai “orang baik” di sini. Mereka meramalkan bahwa mereka akan berperang membela kebajikan melawan kejahatan. Oleh karena itu, mereka membuat Qumran. Sebuah benteng, diperkirakan ini sebuah benteng, sekaligus kota yang “ditanam” di bukit. Pada akhirnya, ini menjadi realita bagi mereka. Sebuah perang terjadi. Pada 68 Masehi, orang-orang Yahudi berperang melawan orang-orang Romawi. Detil mengenai orang-orang Essenes ini hilang, hingga pada akhirnya di abad ke 20 baru ditemukan lokasi Qumran ini dan dua scrolls ini.

Hal yang tidak jauh berbeda terjadi dengan orang-orang Megido. Megido ini juga sebuah benteng dan kota. Merekaada di sebuah gunung yang bernama Meggidon. Tidak berbeda jauh, mereka juga membuat tempat ini sebagai hope-of-salvation bagi mereka dalam upcoming battle of the good and the evil. Iya, mereka membuat benteng ini dengan motivasi sama dengan orang-orang Essenes. Har itu berarti gunung, meggidon adalah tempat ini, namanya. Pernah mendengar kata Armageddon? Iya, kata Armageddon dikatakan bahwa berasal dari nama tempat itu. Bahwa tempat itu akan menjadi tempat yang menggambarkan kiamat atau akhir zaman seperti yang telah diramalkan. Sayangnya, sebelum mereka melihat kiamat yang sebenarnya, mereka terlebih dahulu dikalahkan oleh orang Mesir. Meggidon ini adalah tempat yang strategis bagi perdagangan, bagi arus pasukan, bagi tempat pertahanan, oleh karena itu Tuthmosis 4 menyerang kota ini. Ya, kini kota yang tinggal reruntuhan ini tak lagi ditinggali. Hope of salvation mereka bisa jadi telah gagal.

“We are given to the cult of personality; when things go badly we look to some messiah to save us.” – Constantine Karamanlis

Apa yang dikatakan politisi Yunani yang pernah menjadi PM dan presiden dari 3rd Hellenic Republic ini ada benarnya. Dari contoh ini, ada sebuah tarikan besar lagi mengenai konsepsi mesias ini. Mesias ini adalah pengharapan, mesias ini adalah hope of salvation, adalah harapan dari kehidupan yang lebih baik setelah mengalami keburukan.

Ya, komunitas masyarakat apapun, yang mengalami kondisi persekusi atau kondisi yang buruk, akan selalu, at least dari yang saya baca dan saya mengerti, memiliki hope of salvation. Akan selalu ada mesias yang diharapkan akan setelah penantian dalam kesengsaraan dan diharapkan dia membawa pada kesejahteraan, kebahagiaan, dan keselamatan.

Mulai dari kaum Essenes, orang-orang Meggido, orang-orang Yahudi dalam pembuangan Mesir, orang-orang Kristiani, orang-orang Muslim, orang-orang Hindu, orang-orang Budha, orang-orang dengan berabgai latar belakang dan kondisi, semuanya memiliki hope of salvation, punya mesiasnya sendiri-sendiri dengan berbagai nama, bentuk, dan jenisnya sendiri-sendiri. Ya, hope of salvation.

Seiring berjalannya waktu, konsep ini meluas. Pengartian ini menjadi melebar, dipakai dalam berbagai konsep, ya, di Timur-Tengah pun terjadi seperti ini. Di saat Timur-Tengah kini masih berkobar, Suriah nampak stagnan antara Assad dan pemberontak, Mesir kembali terjerembab dalam kerusuhan, Turki dalam amplitudo yang besar atas kereusuhan dan ketenangan, Israel-Palestina – lupakan saja karena mereka tak pernah terlalu akur bahkan hanya untuk “saling mencumbu”, Lebanon – mereka terkena sapuan remah-remah yang terjatuh dari Suriah, Tunisia dan Libya – “Maaf, kalian bukan yang paling cantik lagi untuk dipandang”, dan negara-negara teluk? Ah, mereka sibuk dengan uang, tak perlu diperhatikan jauh-jauh.

Kini, dalam kondisi pelik ini, dengan asumsi seperti Constantine Karamanlis, seharusnya mereka juga memiliki hope of salvation. Mereka seharusnya mereka memiliki konsepsi mesias versi mereka sendiri.

Siapa? Well, kita mulai dari yang termudah, golongan agamawi.[5] Mengapa paling mudah, mereka paling dekat dengan bahasan yang kita bahas ini. Konsepsi ini berasal dari sebuah agama, maka ini juga paling mudah ditemukan di agama-agama lainnya. Mari kita lihat dari orang-orang yang ingin menegakkan hukum Tuhan di dunia, dalam pemerintahan. Perlu disebutkan? Saya rasa tidak. Ayolah, jangan pura-pura tidak tahu. There are some of them living on this very planet!

Golongan ini adalah orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi atas hukum-hukum Tuhan dan ingin merealisasikannya dalam hukum positif negara tempat mereka berada. Mereka yang lupa dengan Eropa yang pernah runtuh karena sistem pemerintahan yang banyak dicampuri oleh kekuatan ke-Paus-an Roma. Hope of salvation? Tentu apa yang ada di agama mereka. Kitab suci, nabi, segala omongan-Nya, mereka impor ke dalam dunia kekinian dan membangun harapan atas keselamatan dari itu.

Mereka memakai agama sebagai jalan keselamatan, ya semua agama seperti itu – menjanjikan keselamatan. Mereka menganggap bahwa jika memakai sistem yang dituliskan dalam kitab suci, maka mereka akan hidup sejahtera, makmur, bahagia, tidak ada lagi konflik, tidak ada lagi kemiskinan, dan bla-bla-bla segala janji Tuhan dipenuhi dan tanah mereka tiba-tiba subur serta mampu mengubah kebusukan-kebusukan sistemik dan manusia di negara itu menjadi kebaikan. Kebajikan menang atas kejahatan di negara itu. Seperti itu. Taruhlah slogan seperti ini,”Dengan sistem ini, kita (masukkan janji Tuhan di sini).” “Dengan melaksanakan (masukkan tindakan agamawi di sini), maka kita akan membantu (sebutkan cause atau hope of salvation di sini) dalam menciptakan (impian dari hope of salvation) di dunia.” Atau,”Keselamatan dan segala (sebutkan janji Tuhan di sini) akan didapatkan oleh orang-orang yang berjuang dalam (sebutkan hope of salvation di sini). Itu templates dari mereka.

Selain itu, golongan kini kita beranjak ke golongan-golongan biasa, orang-orang yang tidak bergerak dalam koridor agama. Masih sama seperti mereka yang agamawi. Mereka punya hope of salvation mereka sendiri. Kita bisa ingat bagaimana orang-orang komunis percaya bahwa kata-kata yang terkait dengan ajaran Marx, bergerak dalam koridor revolusi proletar a la Marxisme mempercayai bahwa rezim diktator proletariat akan menjadi sistem penyelamat mereka dari tangan-tangan kapitalis jahat. Ada pula orang-orang biasa yang menganggap bahwa sistem pengaturan bersama itu lebih baik. Ya, pengusung demokrasi. Mereka yang menginginkan sistem dimana ada kontrol bersama, ada pengaturan bersama, ada kesepakatan bersama, ada dialog, ada transaksi, ada keseimbangan, ada keterlibatan aktif serta pasif, ada persaingan yang bersih, ada penghargaan pada kehidupan, ada penghargaan pada manusia. Ya, kurang lebih mereka seperti itu. Itu komponen-komponen kecil dari gambaran keselamatan mereka yang lebih besar, kehidupan yang lebih baik ditopang dengan sistem pemerintahan yang demokratis. Seperti itu gambaran imajinasi mereka.

Contoh mudahnya tentang orang dengan padangan di luar hal pertama, contoh yang benar-benar ada, kita lihat dari orang-orang yang mengusung El-Baradei. Mengapa dia? Bukti yang lebih matang, ada baiknya dibuka dari tulisannya mengenai protes di Mesir baru-baru ini. Oposan ini, El-Baradei, ini menuliskan “You Can’t Eat Sharia” dalam Foreign Policy Magazine.[6] Dia lebih menekankan soal manusianya, bukan soal ini sistem berasal dari Tuhan atau bukan. Ini soal pemerintahan yang lebih baik, dalam pandangan dia, harusnya lebih berfokus pada kebutuhan untuk bergerak dengan kompentensi dan secara imparsial.[7] Hope of salvation-nya terletak pada itu. Mesir harus diselamatkan dengan cara seperti itu, menurutnya.

Itulah konsepsi mesias, konsepsi Hope of salvation, itu yang membuat orang tergerak. Membuat orang memiliki hasrat untuk berjuang, membuat orang percaya bahwa ada hal baik di depan sana yang layak diperjuangkan dan layak untuk dibuat pengorbanan-pengorbanan demi mendapatkannya. Orang rela mati, orang mengeluarkan diri dari kelompok masyarakat, orang berlatih dan bertekun dalam perang, orang mempertajam otaknya, orang merelakkan nyawanya bagi tujuan yang menurutnya lebih besar. Orang memberikan dirinya pada hope-of-salvation, pada mesiasnya, demi kehidupan yang mereka percayai sebagai lebih baik.


[1] Salvatore, Italian, artinya penyelamat.

[2] Jangka Jayabaya, ini adalah ramalan mengenai masa depan “Indonesia” yang diprediksi oleh Raja Jayabaya dari Kediri. Ya, Jayabaya ini semacam Nostradamus dalam versi Indonesia.

[3] “Gara-gara”, atau dalam Bahasa Jawa dibaca  dengan lafal goro-goro dengan o yang tidak utuh, ini diartikan sebagai kejadian besar, chaos besar-besaran, yang memberikan kesempatan bagi ratu adil atau satriyo piningit untuk naik dan memimpin Indonesia menuju kejayaan. Semacam old-saying, in time of chaos, heroes will rise.

[4] Yudea dalam terminologi sekarang merujuk pada wilayah Israel dan Palestina. Ya, dahulu wilayah ini bernama Yudea atau Judea. Di salib Yesus ada tulisan INRI, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum. Yesus dari Nazaret, raja orang Yahudi. Wilayah Yudea di artikan sebagai wilayah Yahudi dalam kekuasaan kekaisaran Roma.

[5] Aga-ma-wi a bersifat agama. Diambil dari http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php . Tentunya dengan kata kunci agamawi.

[7] Diunduh dari http://www.foreignpolicy.com/articles/2013/06/24/you_can_t_eat_sharia?page=0,1. “We in the opposition have been urging President Mohamed Morsy and company for months that Egypt needs a government that is competent and impartial, at least through the upcoming parliamentary election.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s