Risalah MESI

Kudeta Mesir 2013 dan Ancaman Perang Saudara

 Pada hari Rabu tanggal 3 Juli 2013 Militer Mesir melakukan kudeta terhadap Pemerintahan Muhammad Mursi yang sebelumnya terpilih dalam pemilu dan menduduki jabatannya sejak Juni 2012. Menteri Pertahanan Mesir Jenderal Abdul Fatah Sisi mengumumkan turunnya Mursi, yang sebelumnya terjadi demonstrasi massa yang menuntut mundurnya Presiden Mursi, Mursi sendiri masih mengklaim keabsahannya sebagai Presiden Mesir yang legal. Mursi kemudian menjadi tahanan rumah dan digantikan oleh Presiden interim berlatar belakang sipil Adly Mansour.

0816265Ikhwanul780x390

Kudeta Mesir ini merupakan buntut dari kegagalan Mursi dalam merangkul golongan-golongan Mesir yang lain di luar IM termasuk mantan loyalis mresiden sebelumnya, Hosni Mubarak pada Revolusi Mesir 2012. Padahal Ikhwanul Muslimin bukanlah kelompok yang sendirian dalam upaya menggulingkan Mubarak saat itu, kelompok Islam yang ada di Mesir pun bukan hanya Ikhwanul Muslimin, terdapat kelompok islam liberal, Hizbut Tahrir dan kelompok Salafi, di luar kelompok Islam terdapat Kristen Koptik dan golongan sekuler. Namun tidak dipungkiri bahwa Ikhwanul Muslimin merupakan kelompok basis massa di Mesir yang terbesar. Ini terbukti dari kemenangannya di Pemilu, tetapi legitimasi dalam demokrasi berasal dari pemerintahan mayoritas yang berfungsi untuk memanajemen konflik antar golongan dan mengayomi kelompok minoritas. Menurut Max Weber, legitimasi adalah harmonisasi antara penguasa dan yang dikuasai, di mana yang di kuasai ini menerima keabsahan kekuatan superior penguasa. Tuntutan mundurnya Mursi dan kudeta yang dilakukan oleh militer merupakan wujud kegagalan legitimasi pemerintahan Muhammad Mursi.

Kudeta yang berasal dari bahasa Prancis, coup d’etat, adalah upaya untuk menjatuhkan pemerintahan dan mendapatkan wewenang pemerintahan dengan sebelumnya mendapatkan dukungan dari militer maupun dari rakyat, karena kudeta ternyata membutuhkan legitimasi juga dari rakyat, umumnya kudeta ini mengambil alih beberapa tempat simbol negara dan penguasaan (mungkin melakukan pembredelan jika diperlukan) media massa.

Militer Mesir tercatat beberapa kali melakukan intervensi politik, termasuk kudeta. Perama pada tahun 1952 telah terjadi kudeta (revolusi) terhadap monarki, yang dilakukan oleh militer didukung IM. Kedua saat militer turun tangan menghadapi kerusuhan massa terkait naiknya harga roti yang terkenal dengan sebutan “intifada roti” pada 1977. Ketiga saat militer mengatasi pemberontakan pasukan anti-huru-hara pada tahun 1986. Keempat pada saat militer mengambil pemerintahan sementara ketika Mubarak lengser pada 2011.

Hubungan militer-IM sebenarnya sempat dekat ketika mereka berkolaborasi menumbangkan monarki pada 1952. Nasser naik menjadi presiden, militer memonopoli kekuasaan dan kemudian menyingkirkan IM. Konflik terbuka terjadi antara militer dengan IM dan berlangsung hingga Nasser lengser. Hubungan militer-IM membaik ketika Sadat berkuasa dan menggandeng IM guna menghadapi loyalis Nasser. Namun hubungan baik Sadat dengan AS dan Israel membuat IM dan kubu Islamis lain berang. Puncaknya ekstrimis-Islamis membunuh Sadat dalam parade militer Oktober 1981. Mubarak yang menggantikan Sadat mempunyai hubungan yang tegang dengan IM. Semua presiden Mesir setelah 1952 berasal dari kalangan militer.

Pada revolusi 2011, militer mengambil alih kekuasaan dan menyelenggarakan pemilu yang pada akhirnya dimenangkan IM dan memunculkan Mursi sebagai presiden sipil pertama. Hubungan harmonis militer-IM ini membuat beberapa pihak menuduh ada permainan antara militer-IM setelah Mubarak turun. Namun, perkembangan social-politik Mesir di era demokrasi tidak kunjung membaik. Kehidupan ekonomi juga terus mengalami kelesuan dan memicu protes massa sepanjang Mursi berkuasa.

Dalam kudeta kali ini, militer mendapatkan dukungan dari kelompok oposisi yang anti Mursi dan menuntut mundurnya Mursi dari kursi presiden. Oposisi-demonstran melihat militer sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menumbangkan rezim IM dan menggagalkan ikhwanisasi Mesir. Militer juga melakukan berupa razia dan menangkap karyawan Al-Jazeera yang dituding bersimpati kepada Pemerintahan Mursi, militer menutup tiga saluran berita, dari Ikhwanul Muslimin Egypt 25, dan dua saluran berita Al-Hafiz dan Al-Nas. Banyak petinggi Ikhwanul Muslimin (IM) ditangkap termasuk pemimpin tertinggi IM Mohammed Badei dan mantan pemimpin IM Mahdi Akef. Penangkapan dan pembungkaman media IM ini dinilai karena menghasut kekerasan. Langkah ini oleh militer disebut sebagai investigasi terhadap pemerintahan Mursi. IM sendiri menyebut militer telah merampas kekuasaan dan tidak akan bekerjasama. Namun IM tetap diakui sebagai kelompok legal dalam pemilu mendatang.

Saat ini Mesir berada di ujung tanduk, ancaman perang saudara seperti yang terjadi di Suriah. Jika IM tidak mampu menenangkan massanya diperkirakan kerusuhan masih akan berlanjut. Namun demikian, militer dinilai terlalu kuat untuk dilawan secara terbuka. Upaya kudeta adalah tindakan ilegal yang melanggar konstitusi, meruntuhkan demokrasi yang baru tumbuh seumur-jagung di Mesir. Meski Syaikh Besar Al-Azhar mendukung langkah militer ini yang disebutnya sebagai “pilihan yang risikonya paling kecil”. Militer berkuasa, oposisi bersuka-cita, IM bermuram durja. Tentunya ada harapan Mesir agar tidak terjadi perang saudara, kudeta ini menambah catatan hitam bagi revolusi Arab dan keberlangsungan gelombang demokrasi baru di Timur-Tengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s