Risalah MESI

Sebuah Tinjauan Sejarah: Dinamika Kelompok Pro Sekuler dan Kelompok Islami di Turki

Akhir-akhir ini Turki menjadi salah satu negara yang mendapatkan perhatian yang cukup besar dari media internasional. Dimulai dengan demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh kelompok sekuler untuk menolak kebijakan pemerintah terkait Gezi Park, demonstrasi ini kemudian berlanjut menjadi aksi menentang kekuasaan Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan, yang kebijakannya dianggap terlalu otokratik. Beberapa media bahkan menyebut gelombang demonstrasi ini sebagai Turkish Spring, yang merupakan efek domino dari Arab Spring yang terjadi di semenanjung Arab dan Afrika Utara.

Protes Turki 2013 membawa nuansa benturan kaum sekuler dan Islamis

Secara geografis Turki terletak di kawasan Eurasia, yang terbentang dari semenanjung Anatolia di Asia Barat dan daerah Balkan di Eropa Tenggara.  Letak ini sangat mempengaruhi corak budaya dari negara ini. Karena itulah banyak yang menyebut negara ini sebagai jembatan antara dua peradaban. Yaitu peradaban Eropa di Barat dan peradaban Asia di Timur.

Masyarakat dunia mengenal Turki sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim. Turki juga dikenal karena ke-khalifah-an Islam pernah berjaya disana. Maka dari itu banyak yang mengira bahwa sistem pemerintahan dan corak budaya masyarakat Turki sama dengan negara-negara Arab lainnya. Tapi agaknya tanggapan itu tidak sepenuhnya benar. Di Turki sendiri dikenal ada dua kekuatan besar, yaitu kelompok Pro-Sekuler dan kelompok Islami. Munculnya dua kelompok ini sendiri merupakan hasil dari dinamika sejarah panjang yang terjadi di negara itu.

Dalam sejarahnya, Turki pernah menjadi salah satu kekuatan dunia dimana ke-khalifah-an Islam pernah berdiri. Yaitu Ke-khalifah-an Ottoman atau yang biasa juga disebut Kekaisaran Turki Utsmani. Maka dari itu mayoritas penduduk Turki 99% adalah muslim. Karena berbentuk ke-khalifah-an, maka budaya-budaya dan tradisi Islam lah yang banyak berkembang dalam masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari bangunan-bangunan masjid, madrasah-madrasah, dan tradisi-tradisi dalam masyarakatnya. Puncak kejayaaan dari ke-khalifah-an ini ditandai dengan perluasan wilayahnya sampai ke Afrika Utara dan juga Eropa. Penaklukan yang paling terkenal adalah penaklukan Konstantinopel dari Bizantium pada masa kekuasaan Muhammad Al Fatih pada 1453. Selain itu ke-khalifah-an ini juga memiliki armada laut yang sangat maju pada saat itu.

What goes up, must come down, setelah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia I, ke-khalifah-an Ottoman berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kondisi kritis itu diperparah lagi dengan banyaknya separatisme di dalam ke-khalifah-an dan gelombang pembangkangan kaum muda Ottoman atas anggapan kekuasaan khalifah yang terlalu absolut.

Untuk mengatasi permasalahan pembangkangan oleh kaum muda, sebenarnya sudah mengakar sejak tahun 1800-an. Mereka yang disebut sebagai Utsmani Muda mengusulkan beberapa ide perubahan kepada Sultan Mahmud II. Atas desakan tersebut, sultan kemudian mengenalkan istilah Tanzimat (Reorganisasi). Tanzimat adalah nama yang diberikan untuk periode 1839 – 1876 yang berisi serangkaian reformasi yang dilakukan dengan menata ulang berbagai bidang kehidupan Utsmani dengan cara Barat. Misalnya saja dengan sekolah-sekolah sekuler baru, meningkatkan pengajaran bahasa Eropa, dan mengirim pelajar-pelajar ke Eropa. Beberapa perubahan ini juga diikuti dengan perubahan cara berpakaian terutama di kalangan pelajar. Jubah-jubah dan sorban yang menjadi lambang agama pun mulai ikut ditinggalkan dan digantikan menjadi jas ala Eropa. Perubahan-perubahan itulah yang mempercepat aliran pemikiran Eropa masuk ke dalam Kesultanan Utsmani.

Ketika Sultan Abdul Hamid II[1] berkuasa, dia mendirikan ratusan sekolah baru di seluruh kesultanan, dengan kurang lebih sepuluh institut pendidikan tinggi di ibukota. Tujuan dari didirikannya sekolah-sekolah ini adalah untuk menuangkan ideologi Islam resmi dan menghasilkan pembantu sultan yang setia.  Tetapi karena pendidikan sekuler yang diterima oleh siswa dari sekolah-sekolah menengah bertentangan dengan tujuan ini, maka perguruan tinggi menjadi tempat persemaian perlawanan, terutama di Sekolah Militer Kedokteran dan Akademi Perang.

Munculnya aliran pemikiran Eropa itu semakin tidak terbendung lagi seiring berjalannya waktu. Sekulerisme yang dibawa dari pemikiran ini kemudian mencapai puncaknya setelah runtuhnya ke-khalifah-an pada tahun 1923. Peristiwa ini sekaligus menandai berdirinya Republik Turki yang diproklamirkan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Di masa Ataturk upaya untuk sekulerisasi bahkan terlihat lebih gencar dilakukan. Misalnya saja bahasa Arab diganti dengan bahasa Turki, lembaga pendidikan agama ditutup, larangan jilbab digantikan pakaian ala Barat baik pria maupun wanita, kalender Islam diganti dengan kalender masehi, dan bahkan perintah adzan dikumandangkan dalam bahasa Turki.

Namun upaya ini sekularisasi yang dilakukan oleh pemerintahan Ataturk ternyata tidak mampu untuk membuat kelompok Islami yang ada di Turki mati. Mereka masih tetap ada walaupun dengan beragamnya dinamika hubungan dengan pemerintahan Turki. Sepeninggal Ataturk, masing-masing kubu menjadi dua kekuatan yang terus bersaing dalam memperoleh kekuasaan tertinggi di Turki. Kelompok Islami sendiri mulai menunjukkan peningkatan yang luar biasa pada tahun Desember 1995 setelah Partai Refah memenangkan pemilu dengan 21% suara. Kemudian di tahun 2002, salah satu partai yang didukung kelompok Islami, Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP) berhasil memperoleh 34,1 % suara. Ini kemudian yang menaikkan citra dari Recep Tayyib Erdogan sebagai pemimpin AKP, yang sekaligus menempatkan Erdogan sebagai perdana menteri Turki. Kemenangan itulah yang menandai bahwa kubu Islami mengalami masa berkuasa di Turki.

Di tengah kekuasaan kubu Islami, kelompok Pro Sekuler pun masih menjadi kekuatan oposisi yang cukup kuat di Turki saat ini. Dan dalam konteks kekinian, kelompok pro-sekuler adalah salah satu kelompok dalam protes minggu-minggu ini bersama aktivis lingkungan, pelajar, bahkan fans dari Besiktas, Galatasaray, dan Fenerbahce.


[1] Dia adalah pengganti Sultan Mahmud II.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s