Aktivitas MESI

Resume Diskusi: Liga Arab dan Konflik Suriah

Masalah yang terjadi di Suriah merupakan masalah legitimasi yang cukup rumit. Hal ini dibuktikan dengan tidak terselesaikannya konflik hingga kin.

Secara garis besar, terdapat dua aktor utama yang berperan di konflik ini, yaitu FSA dan rezim Assad. Masalah paling inti dari konflik ini adalah konflik di antara negara-negara maupun pihak yang mendukung serta menentang masing-masing pihak, dan ini diperparah dengan konflik internal di dalam badan FSA itu sendiri. Keterlibatan aktor-aktor di luar mereak berdua ini pun beragam. Mulai dari negara-negara, organisasi internasional kelas global seperti PBB, dan juga organisasi regional Timur-Tengah seperti Liga Arab. Tingkat keterlibatan mereka pun berbeda-beda, ada yang terang-terangan berkata akan membantu, ada yang membantu dalam diam, ada yang memberi bantuan uang, ada yang memberi bantuan military-advisors, dan bantuan dalam bentuk lainnya.

Dalam hal ini, ada sebuah organisasi yang dalam kasus ini cukup nampak “diam” atau terkesan “dilupakan”. Apa yang sering disorot adalah PBB. Ya, PBB sebagai organisasi dengan anggota berupa negara-negara yang memiliki lingkup kerja seluruh bumi ini. Selain itu, kemungkinan selanjutnya, untuk organisasi negara, adalah Uni-Eropa. Berbagai kekuatan besar di Eropa dipersatukan dalam Europan-Union. Membuat mereka menjadi sebuah kekuatan yang lebih besar lagi untuk bermain di perpolitikan dunia. Selain itu, sorotan mencapai AS, Rusia, China, Iran, dan Israel. Ada salah satu aktor yang kita lupakan di sini. Satu aktor regional yang sudah disebutkan di atas, namun masih jarang disebutkan, Liga Arab. Lalu? Apa peran yang mereka lakukan?

Peran Liga Arab sebagai organisasi regional sebenarnya sangat diharapkan dalam penyelesaian konflik ini. Namun demikian, kewenangan yang terbatas membuat Liga Arab seakan mandul dalam membantu Suriah menemukan jalan keluar dari konflik berkepanjangan yang mereka hadapi. Peran Liga Arab mulai muncul ketika pada konferensi terakhir di Doha, Qatar, Liga Arab memberikan kursi perwakilan Suriah kepada pihak oposisi, bukannya kepada rezim Assad yang secara administratif masih memiliki legitimasi sebagai pemerintahan di Suriah. Hal ini lalu menggiring pada pertanyaan menarik mengenai apa sebenarnya motif di balik sikap Liga Arab tersebut.

 

 

Dalam diskusi kami, ada beberapa poin yang mungkin dapat menjadi jawaban atas pertanyaan di atas, yaitu:

  1. Keberadaan Arab Saudi sebagai negara yang sangat berpengaruh dalam Liga Arab masih belum tergoyahkan, sedangkan di sisi lain Arab Saudi merupakan negara yang dekat dengan Barat, terutama AS. Hal ini bisa jadi mengindikasikan dukungan terselubung AS kepada oposisi. Akibatnya, adalah proses perpanjangan tangan. AS memainkan Arab Saudi, kemudian Arab Saudi yang dimainkan ini memainkan Liga Arab.
  2. Rational choices in International Politics:

a)     Rezim Assad adalah rezim Syiah, sedangkan kebanyakan negara anggota Liga Arab merupakan negara dengan pemerintahan dari golongan Sunni. Keberadaan rezim Syiah ini tentu menjadi poin yang mengkhawatirkan karena hal ini bisa jadi mendorong negara ataupun kelompok Syiah di negara lain mengikuti jejak Suriah dan menciptakan gelombang uprising.

b)     Anggapan pragmatis bahwa rezim Assad dianggap sudah tidak lagi kuat dan diprediksikan dalam waktu dekat akan segera tumbang, sehingga dukungan kepada pihak oposisi bisa jadi dukungan yang paling rasional. Rasional bagaimana? Ketika rezim tertentu sudah tidak lebih menguntungkan dibandingkan mendukung pemberontaknya, maka peralihan dukungan adalah sebuah kewajaran dalam politik dengan kondisi demikian. Ketika pihak A tidak mampu memberikan “keuntungan” atau tidak mampu “membantu” dalam proses mencapai national interest, maka pihak A kemungkinan besar akan ditinggalkan, terlebih lagi jika ada pihak lain yang dinilai “lebih menguntungkan”. Bagaimana detilnya? Rezim Assad adalah rezim yang dibenci pemberontak. Dengan posisi yang melemah, rezim ini kemungkinan besar akan runtuh. Ketika dia runtuh, maka pihak pemberontak akan menjadi penguasa. Untuk mendapatkan simpati dari rezim baru ini, maka sebelum rezim lama benar-benar jatuh, harus sudah ada tanda-tanda dukungan pada para pemberontak tersebut sehingga ada semacam “jasa baik” yang telah diberikan dan diharapkan berbalas.

c)     Adanya kepentingan Amerika Serikat dan negara-negara Sunni untuk mencegah perluasan pengaruh Iran sebagai negara mayoritas Syiah di Timur Tengah.

  1. Adanya isu Pan-Arabisme yang bisa menjadi landasan ataupun justifikasi bagi konflik sekterian yang berlangsung di Suriah.

 

Namun demikian, dalam perkembangannya dukungan maupun intervensi dari pihak barat cenderung menurun. Hal ini dikarenakan :

  1. Eropa sedang memiliki fokus-fokusnya masing-masing. Contohnya adalah soal Perancis yang sibuk dengan kondisi internalnya dalam rezim Hollande dan intervensinya ke Mali.
  2. Amerika Setikat sedang mengalihkan fokus ke Asia, khususnya Asia Tenggara dan Asia Timur. Ancaman China sebagai kekuatan ekonomi dan militer di Asia serta dunia menarik atensi Amerika Serikat. Selain itu, kondisi Semenanjung Korea juga sedang fluktuatif dengan berbagai aksi-dan-reaksi antara AS-Korea dan Korea Utara.

 

Dengan demikian, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah dalam Suriah adalah sebagai berikut:

  1. Internal

a)      Rezim Assad masih banyak didukung oleh kalangan atas, bahkan kaum Sunni dari level menengah. Fraksionalisasi di dalam Suriah itu rumit, jikalau rezim ini turun, maka proses penyatuan kembali, “perangkulan” terhadap orang-orang yang pro-Assad akan memakan waktu dan begitu pula proses terapi pada “shock” setelah pergantian rezim.

b)      Kondisi masih belum menunjukkan perkembangan berarti dan pergerakan ke arah yang lebih stabil, dalam artian tidak ada dialog antar faksi yang bertikai. Di dalam pemberontak ini ada berbagai macam faksi dan nampak tidak ada dialog di antara mereka dan jika demikian selanjutnya, maka proses pembentukkan Suriah pasca kejatuhan rezim Assad akan susah. Mengapa? Karena jika tidak ada dialog di antara faksi pemberontak, dapat dimungkinkan bahwa “spoil of war” akan tidak terbagi dengan memuaskan. Misalkan pembagian kekuasaan, kebebasan, pengembangan ekonomi, dan berbagai sumber daya serta fasilitas pemerintah bagi rakyat.

c)      Masalah Sunni – Syiah masih akan terus menjadi titik penting dalam berbagai situasi konfliktual di Timur-Tengah, dalam artian masalah ini masih akan menjadi poin yang memicu konflik di Timur-Tengah atau memberikan isu tambahan pada konflik yang sudah terjadi..

  1. Eksternal:

a)      Liga Arab tidak punya power untuk memaksa ataupun mengintervensi masalah ini. Akibatnya, mereka hanya nampak seperti observer. Liga Arab hanya bisa bertindak di luar konflik dan di luar Suriah. Tidak bisa memberikan dampak langsung pada kondisi di dalam Suriah.

b)      Bantuan dari PBB terhambat veto dari Rusia dan China. Ya, dahulu upaya pembahasan mengenai konflik ini di dalam DK PBB telah di veto oleh Rusia dan China, akibatnya tidak ada tindakan dari DK PBB. Konflik ini berlanjut terus, hingga kini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s