Risalah MESI

Objektivitas dalam konflik Israel-Palestina

Konflik antara Israel dan Palestina, sulit untuk tidak jauh dari sentimen keagamaan, tentang Islam, Yahudi, dan Kristen. Ini diciptakan dari bias dalam pemahaman mengenai konflik yang sudah menjadi rutinitas di-“tanah yang terjanji”. Hal ini tentu menciptakan bias pula dalam mengatur usaha mengenai perdamaian bagi pihak-pihak yang saling berkonflik. Kebencian akan suatu entitas tertentu membuat usaha perdamaian menjadi alot dari generasi ke generasi.

Pandangan yang bias dan berat-sebelah membuat banyak pihak sulit menilai secara objektif tentang konflik ini

Hugo Grotius, seorang ahli hukum Belanda (1583 – 1631) menjelaskan pemikirannya mengenai perang dalam hubungan internasional. Pemikiran Grotius ini kemudian menjadi dasar diciptakannya hukum humaniter internasional atau juga sering disebut sebagai hukum perang. Basis pemikiran Grotius adalah mengenai Natural Law, yaitu norma dasar manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Menurut Grotius, manusia merupakan makhluk ciptaan tuhan, dengan segala rupa dan ciptanya yang sarat akan nilai-nilai kebaikan, sehingga menurut Grotius, manusia pada dasarnya adalah baik, dan kebaikan manusia merupakan nilai yang tidak bisa dilanggar dan ini berlaku secara universal.
Di sisi lain, perang dalam pandangan Grotius adalah bagian yang tidak terpisahkan dari interaksi antar aktor dalam hubungan interansional, dan juga tidak dipungkiri bahwa dalam perang, banyak buruk yang terjadi jika disandingkan dengan nilai kemanusiaan –natural law. Sehingga kemudian Grotius merumuskan mengenai pembentukan hukum yang akan mengatur segala tindakan yang mungkin dilakukan dalam perang. Ini dirumuskan untuk menjamin bahwa perang akan terjadi dengan seminimal mungkin melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Dari pemikiran Grotius, yang kemudian melandasi penciptaan hukum humaniter internasional, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa natural law atau nilai kemanusiaan merupakan parameter penilaian akan benar dan salah.
Dalam konflik Israel-Palestina kita dapat melihat banyak sekali nilai-nilai kemanusiaan yang dilanggar oleh kedua belah pihak. Pandangan yang bias dan berat-sebelah membuat banyak pihak sulit menilai secara objektif tentang konflik ini, dan tentu pula kemudian berpengaruh terhadap sulitnya upaya perdamaian yang digagas untuk mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik. Sudah saatnya kita mengedepankan nilai kemanusiaan dengan membuang sentimen apapun dalam memandang konflik Israel-Palestina untuk menciptakan objektivitas dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusian dan memperjuangkan kebaikan bagi seluruh pihak yang bertikai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s