Risalah MESI

Israel – Iran, Perang dan Pertimbangan?

Namun yang menjadi pertanyaan utama, akankah perang antara Israel dan Iran akan benar-benar terjadi?

Program nuklir Iran semakin lama semakin menjadi kekhawatiran bukan hanya negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, namun juga bagi negara-negara di kawasan Timur-Tengah. Ini dikarenakan muncul pertanyaan dan kekhawatiran bahwa Iran akan menggunakan fasilitas nuklirnya untuk membuat senjata-senjata dengan nuklir. Berbagai respon dunia muncul, mulai dari sekedar kecaman hingga pernyataan kesiapan militer. Turki meminta bantuan NATO untuk penambahan sistem pertahanan Rudal Patriot. Sedangkan Israel melakukan tindakan yang lebih provokatif, yaitu dengan menyatakan kesiapan perang terhadap Iran dan melakukan aksi sabotase terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran. Namun yang menjadi pertanyaan utama, akankah perang antara Israel dan Iran akan benar-benar terjadi? Mengapa Israel dan Iran? Iran menggembor-gemborkan bahwa ia akan membela Palestina dalam perjuangannya melawan Israel. Iran akan “menghapus” Israel dari peta dunia. Tentunya Israel tidak tinggal diam, sejarah konflik dan perang yang panjang membuat Israel selalu “seakan siap perang” dan akhirnya memunculkan pernyataan seperti di atas tadi.

Sebenarnya, bukan hal yang mudah bagi suatu negara untuk menyatakan perang terhadap negara lain, terutama dalam era modern dengan pola kekuatan yang multipolar. Konsekuensi perang akan sangat panjang dan diikuti dengan bencana kemanusaan yang hebat. Rasionalitas menjadi sumber pertimbangan bagi negara untuk menyatakan perang dengan negara lain, tentang sejauh mana ia akan mengorbankan yang menjadi miliknya dan apa yang akan ia dapatkan.

Jika dilihat, ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi keputusan Israel untuk menyatakan perang dengan Iran. Pertama, mengenai dukungan dari negara-negara super power, terutama dalam hal ini AS. Israel faktanya merupakan negara kecil dengan penduduk hanya sekitar 7 juta jiwa, dibandingkan dengan Iran yang 78 juta jiwa. Hal yang selama ini membuat Israel bertahan baik secara militer maupun ekonomi adalah dukungan dari AS dengan lobi Yahudi dalam pemerintahan AS. Namun, jika melihat bagaimana sikap Obama mengenai tindakan Israel yang cenderung provokatif dengan Iran, kita dapat menyimpulkan bahwa Obama sendiri meskipun menyatakan sikap yang keras terhadap program nuklir Iran, namun juga mengecam tindakan provokasi dari Israel. Kedua, faktor geografi dan perpolitikan kawasan Timur-Tengah. Secara geografis, Iran dan Israel tidak terletak berbatasan, sehingga konflik antara kedua negara akan mempengaruhi negara-negara di kawasan sekitarnya. Saat ini negara yang menjadi penentu terbukannya kemungkinan konflik adalah Suriah. Ini dikarenakan Suriah “menyediakan” akses militer, dalam artian bahwa Suriah ada di antara Israel dan Iran sehingga wilayahnya akan dijadikan wilayah perlintasan atau bahkan pertempuran, jika seandainya perang benar-benar terjadi. Namun, Suriah sendiri sedang mengalami krisis politik dan segala kemungkinan mengenai masa depan pemerintahan Suriah masih belum dapat dipastikan. Sehingga Israel pun akan sangat gegabah jika mengambil tindakan lebih jauh. Ketiga adalah perubahan pola konflik dalam era perang modern. Menurut William S. Lind dalam tulisannya mengenai “fourth generation warfare” perang yang akan terjadi pada abad 21 tidak akan sama dengan perang-perang yang telah terjadi sebelumnya. Perang tidak akan sesederhana negara melawan negara dengan kekuatan angkatan bersenjatanya. Namun semakin dirumitkan dengan aktor bukan-negara yang membawa motivasi-motivasi tertentu. Salah satu pihak tambahan yang mungkin muncul adalah milisi. Penggunaan kekuatan milisi atau paramiliter akan menjadi kewajaran, kegagalan AS di Irak merupakan gambaran yang sangat jelas mengenai bagaiaman perang modern menurut Lind. AS dengan segala potensi militer dan ekonominya pun kerepotan dalam menghadapinya dalam panggung Irak. Sedangkan Israel sendiri tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapi perang yang berkepanjangan, terutama dari segi kuantitas sumber daya manusianya. Faktor keempat adalah resiko bangkitnya Pan-Arabisme diantara negara-negara Arab. Bagaiamana Pan-Arabisme harus dipertimbangkan lagi? Mari kita lihat saat terjadi serangan udara Israel atas Gaza beberapa waktu lalu. Kita dapat melihat sikap keras Mesir dan Turki atas aksi agresi udara Israel. Akibatnya keputusan Israel untuk memulai perang terbuka dengan Iran merupakan kebutusan yang sangat “bahlul (Arab, bodoh)”.

Lalu bagaimana dengan kemungkinan serangan lebih dulu yang dilakukan oleh Iran? Untuk menjawab pertanyaan ini kita cukup melihat pada posisi Iran yang sangat rapuh diantara negara-negara Arab. Perlu diingat, secara bangsa Iran bukan merupakan bangsa Arab, namun Parsi. Kita dapat melihat dengan bahasa dan latar belakang yang berbeda, walaupun secara agama Iran pun menganut Islam juga, tapi mereka Syiah dan bukan Sunni yang umum dianut oleh negara Arab lainnya. Selain itu perseteruan Irak dengan Iran di masa lampau telah menunjukan bagaimana kemungkinan perseteruan diantara negara-negara Timur-tengah sendiri, dan jika Iran melakukan aksi agresi lebih dulu maka dikhawatirkan, bukannya persatuan yang akan digalang, namun akan menciptakan perang di dalam kawasan. Itu adaah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh Iran jika ingin menyerang Israel. Itu memang baru satu faktor, dari faktor Timur-Tengah. Dari faktor itu saja, Iran sudah harus memikirkan banyak hal, apalagi jika harus ditambah dengan faktor intervensi asing yang bisa saja memihak Israel, seperti AS, ataupun pihak-pihak yang memihak Israel jika Israel diserang terlebih dahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s