Uncategorized

Review Buku “Irak di Bawah Kekuasaan Amerika Serikat: Dampaknya bagi Stabilitas Politik Timur Tengah dan Reaksi (Rakyat) Indonesia”

Penulis: Tim HI UGM, Editor: Siti Muti’ah Setyawati

 

Buku ini merupakan salah satu buku pilihan yang ditulis oleh tim dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM. Buku terbitan tahun 2004 ini secara jelas memperlihatkan data dan fakta seputar invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak dari latar belakang hingga dampaknya. Tampak jelas buku ini ditujukan untuk bahan bacaan pengamat politik Timur Tengah, khususnya mahasiswa HI yang mengambil studi Timur Tengah. Namun, bukan berarti buku ini sulit dimengerti oleh orang awam. Menyimak tulisan di buku ini relatif tidak membosankan karena seolah ada alur cerita yang membawa pembaca memahami pokok bahasan.

Diuraikan bagaimana latar belakang terjadinya invasi AS ke Irak, mulai dari alasan memberangus rezim Saddam yang dituduh mendukung terorisme hingga dugaan senjata pemusnah massal (WMD) Irak. Namun, AS tidak menemukan WMD di Irak yang menjadi alasan utama untuk “menghukum” rezim Saddam. Perang Irak menjadi episode kesekian kegagalan AS “menciptakan keteraturan, perdamaian dan demokrasi” di dunia. Irak menjadi negara yang tidak stabil karena konflik sektarian dan serangan tentara Sekutu. AS di bawah pemerintahan Bush Jr. tampak  melakukan blunder besar dengan kebijakan Perang Irak setelah dua tahun sebelumnya melakukan Perang Afghanistan, keduanya belum selesai hingga akhir tahun ini. Kedua kebijakan perang ini terbukti menggerogoti anggaran negara AS dan menambah penderitaan krisis ekonomi AS.

Dijelaskan pula bagaimana AS semakin menancapkan kukunya di Timur Tengah pascainvasi ini. AS telah memiliki mitra Israel dan kerajaan-kerajaan Arab yang kaya minyak di kawasan. Dengan menggenggam Irak, AS menjadi hegemon di Timur Tengah secara politik maupun ekonomi. AS membangun Irak yang baru menurut versi mereka dan menanamkan nilai-nilai Barat dalam pemerintahan dan ekonomi Irak. Pemerintah transisi Irak menuju Irak “baru” dianggap gagal mentransformasikan bentuk demokrasi yang stabil. Banyak perusahaan Barat, terutama perusahaan minyak, yang kemudian berdatangan ke Irak. Motif ekonomi, terutama minyak, disinyalir menjadi salah satu faktor pendorong invasi ini, selain adanya lobi Israel untuk mendukung Perang Irak.

AS telah gagal di Afghanistan dan menutupi dengan kegagalan di Irak. Negara ini terbukti semakin bergejolak dan dampaknya mempengaruhi negara-negara di sekitarnya. Pendudukan AS di Irak memicu gerakan ekstrimis Islam di seluruh dunia. Protes internasional juga mewarnai hari-hari gelap Irak. Masyarakat Muslim di Indonesia mengecam tindakan AS ini karena selain unsur kemanusiaan juga adanya ukhuwah Islamiyah antara umat Islam di Indonesia dan Irak. Rasa persaudaraan ini yang kemudian memunculkan gelombang anti-AS di Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri tidak mampu berbuat banyak atas AS.

Buku ini menjadi semacam rangkuman peristiwa pendudukan Irak oleh AS dengan mencantumkan teori-teori dalam hubungan internasional. Analisis yang menyeluruh sangat membantu pembaca dalam memahami peristiwa yang sebenarnya. Namun, sub judul yang ada sangat mengkritisi sikap Indonesia. Karena yang ditulis adalah reaksi rakyat (dalam tanda kurung), bukannya pemerintah Indonesia. Irak sudah hancur dan kini saatnya memulai pembangunan berkelanjutan agar menjadi Irak yang baru, demokratis (a la Irak) dan mandiri. Meski buku ini merupakan sebuah karya yang penting, namun terdapat kelemahan dalam membangun sebuah kerangka pengetahuan pembaca. Informasi yang dibuat sangat lengkap dan mencakup banyak peristiwa politik di luar Irak dapat mengacaukan pola berfikir pembaca. Hal ini sebenarnya wajar karena hampir semua peristiwa politik di Timur Tengah saling berkaitan. Secara garis besar, buku ini merupakan referensi  terpadu mengenai Irak di bawah kekuasaan AS yang wajib dibaca.

 

Gerakan Zionis Bangsa Yahudi dan terbentuknya negara Israel

Bangsa Yahudi telah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Berkali-kali bangsa Yahudi berpindah tempat, terusir dari tanah kelahiran di Palestina dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sejarah mencatat diaspora Yahudi ke seluruh dunia mencapai titik jenuhnya ketika holocaust Nazi memicu terkoyaknya kehidupan Yahudi di tanah barunya. Perasaan tidak aman bersanding dengan bangsa lain menguatkan impian untuk memiliki negeri sendiri. Diskriminasi yang diterima bangsa Yahudi di banyak negara menjadi faktor pendorong menguatnya keinginan akan negeri Yahudi di dunia ini. Maka, melalui gerakan Zionisme yang didengungkan oleh Theodore Herzl bangsa Yahudi memulai perjuangannya menuju tanah terjanji di bukit Zion (dekat Jerusalem, wilayah Palestina). Gerakan Zionis yang maknanya bersatu kembali di tanah kelahiran atau tanah terjanji menjadi spirit bangsa Yahudi, terutama Yahudi Askhenazi dari Eropa.

Gerakan Zionis mendapat dukungan dari Inggris yang saat itu mengurusi kawasan. Inggris hadir di Jazirah Arab setelah adanya kesepakatan Hussein-Mac Mahon tentang pembagian kekuasaan bekas wilayah Kekhalifahan Turki Ustmani. Pemerintahan Inggris menyediakan tempat baik bagi Arab dan Yahudi dan melakukan pembagian wilayah. Klaim Yahudi atas tanah di Palestina mendapat legitimasi melalui Deklarasi Balfour yang dikeluarkan oleh Lord Arthur James Balfour, Sekretaris Luar Negeri Perdana Menteri Inggris. Deklarasi tersebut jelas memuluskan langkah Zionis dengan kalimatnya “the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people”. Deklarasi ini kemudian menuntut komitmen Pemerintah Inggris untuk mendukung terwujudnya tanah air Yahudi yang merdeka dari diskriminasi.

Inggris memberi tempat bagi Yahudi di Palestina karena beberapa alasan. Pertama adalah dukungan bangsa Yahudi dalam kemenangan pasukan sekutu pada Perang Dunia I. Inggris ingin membalas budi dengan menfasilitasi keinginan gerakan Zionis mendapatkan tanah di Palestina. Kedua adalah Inggris ingin memiliki sekutu untuk mengamankan kepentingannya di kawasan Timur Tengah. Inggris ingin mengamankan rute darat dan laut menuju India. Hal terpenting adalah wilayah Zionis di bawah perlindungan Inggris ini dapat menjadi terminal bagi jalur-jalur pipa dari negara kaya minyak di kawasan. Namun, sikap Inggris ini memicu bibit konflik di kawasan. Negara-negara Arab di sekitar Palestina tidak menghendaki hadirnya bangsa Yahudi yang mulai menyerobot tanah bangsa Arab-Palestina.

Akibatnya, ketika bangsa Yahudi menyatakan berdirinya negara Israel sebagai negara Yahudi, bangsa Arab mengecam dan bahkan menyatakan perang dengan Israel. Perang antara Arab-Israel di antaranya adalah perang 1948 (kemerdekaan Israel), 1956 (Suez), 1967 (Ghari), 1973 (Yom Kippur) dan 1982. Peran hegemon Inggris telah digantikan oleh Amerika Serikat (AS). Namun, peran mediasi AS dalam konflik Arab-Israel ini terkesan condong kepada Israel. Hal ini disebabkan antara lain oleh Israel adalah sekutu dekat AS dan adanya lobi-lobi Israel di AS yang mempengaruhi kebijakan negara adidaya tersebut. Akibatnya, konflik Arab-Israel terus berkelanjutan hingga sekarang dan memberikan keuntungan bagi Israel karena lebih unggul secara militer dan politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s