Risalah MESI

KONDISI DOMESTIK SEBAGAI PENYEBAB TERHAMBATNYA PERUNDINGAN DAMAI ISRAEL-PALESTINA

Andi Nasrullah, Mohammad Firaz, Hestutomo Restu Kuncoro , Kishino Bawono, Puput Akad Ningtyas Pratiwi, Ulya Amaliya , Yuradita Soemantri

 

 

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2010

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A. Latar Belakang

Sebuah usaha mengenai perdamaian telah diupayakan tahun ini. Bermodalkan political will dari AS yang dipimpin Barack Obama, yang notabene lebih lunak dibanding George Bush Jr., dicanangkan pembicaraan damai antara Israel dan Palestina. Perundingan Washington antara Pemerintah Israel dengan Pemerintah Palestina berlangsung selama dua putaran. Putaran pertama pada 2 September 2010 dilakasanakan di Ruang Biru Gedung Putih Amerika Serikat dihadiri oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beserta Presiden Palestina Mahmoud Abbas dengan melibatkan Presiden Tuan Rumah Barack Obama, ditemani Raja Yordania, Abdullah dan Presiden Mesir Husni Mubarok. Perundingan tersebut mengangkat berbagai masalah penting seperti keamanan Israel dan pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina. Selanjutnya, putaran kedua dilaksanakan di Sharm el-Sheikh, Mesir pada 14-15 September 2001dengan agenda yang jauh lebih banyak dan tidak kalah penting. Namun, kedua pihak yang sedang berunding mengalami ketegangan ketika melangkah ke topik pembeicaraan mengenai pembangunan pemukiman Yahudi. Perundingan Washington ini pun menjadi terhambat.

Konflik Israel-Palestina dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Sebab, konflik Israel-Palestina memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Mulai dari konflik yang bersifat domestik di Israel dan Palestina, konflik bilateral Israel-Palestina, hingga masalah regional timur tengah, bahkan, keadaan politik dunia. Hal ini tidak terlepas dari adanya campur tangan pihak asing dalam proses penyelesain konflik di timur tengah ini.

Berbagai upaya mewujudkan perdamaian telah diupayakan, namun hingga kini, konflik Israel Palestina tetap saja terjadi. Orang-orang dengan senang hati mengobarkan kebencian mengatas namakan hal-hal terkait dengan konflik itu. Sebenarnya apa yang terjadi dalam konflik itu? Hingga kini, tak ada perdamaian yang terwujud di Israel-Palestina.

Tulisan ini mencoba membahas hambatan-hambatan yang ada dalam pembicaraan perdamaian mengenai konflik Israel-Palestina dalam Perundingan Washington tahun 2010 yang melingkupi faktor domestik di Israel, Palestina, dan Amerika Serikat.

 

B. Rumusan Masalah

Faktor domestik apa saja dalam Israel, Palestina, dan Amerika Serikat yang membuat pembicaraan damai dalam Perundingan Washington pada bulan September 2010 tertunda atau terhenti sementara?

 

C. Landasan Konseptual

 Legitimasi

Legitimasi, merunut Max Weber menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan otoritas untuk memimpin. Butuh power dan legitimasi untuk mendapatkan otoritas. Dan butuh otoritas untuk dapat memerintah dan diakui baik secara internal maupun eksternal. Legitimasi sendiri berarti penerimaan atau pengakuan masyarakat terhadap hak moral pemimpin untuk memerintah, membuat, dan melaksanakan keputusan politik[1]. Dan menurut Max Weber, ada 3 cara memperoleh legitimasi, yaitu dengan legal-rational atau dengan dasar hukum (Misalnya melalui pemilihan umum berdasarkan undang-undang di suatu negara.), traditional atau dengan dasar budaya, dan charismatic atau dengan kualitas pribadi pemimpinnya.

Political System

Dalam model yang diperkenalkan oleh David Easton mengenai sistem politik, suatu kebijakan politik terbentuk dalam sebuah alur yang ia gambarkan dalam sebuah model yang jelas. Dimulai dari pengaruh lingkungan terhadap input (keinginan/tuntutan dan dukungan masyarakat) masuk ke dalam system politik untuk diolah dan dijadikan output (apakah kebijakan itu diterima atau tidak). Setelah suatu kebijakan terbentuk sebagai sebuah output, akan kembali ke input sebagai bentuk feedback terhadap pemerintah melalui sistem politik yang ada.

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A. Kondisi domestik Israel di bawah PM Netanyahu

Pada pemilu Israel tahun 2009, Benjamin Netanyahu terpilih menjadi perdana menteri Israel yang baru. Keberhasilan Netanyahu tersebut tidak lepas dari dukungan partai-partai yang membentuk koalisi bersama Partai Likud. Namun partai-partai yang berkoalisis tersebut memiliki latar belakang kepentingan yang berbeda satu sama lain. Maka, kondisi domestik Israel dibawah Perdana Menteri Benyamin Netanyahu diwarnai oleh tabrakan kepentingan-kepentingan segenap partai politik yang berkoalisi untuk memenangkan Benyamin Netanyahu kembali menjadi Perdana Menteri Israel.

 

Karakteristik Kebijakan Domestik

Keberhasilan Netanyahu dalam pemilu 2009 tidak lepas dari dukungan partai-partai yang membentuk koalisi bersama Partai Likud; antara lain Partai Yisrael Beitenu, Partai Shas, Partai Serikat Torah Yahudi, dan Partai Uni Nasional. Namun bukan berarti koalisi partai pendukung Netanyahu tersebut bebas dari perpecahan. Enam partai yang membentuk koalisi mempunyai haluan politik yang berbeda-beda; yaitu berhaluan kanan (Likud), ultranasionalis (Yisrael Beitenu), dan berhaluan agama (Partai Shas). Perbedaan haluan politik tersebut tentu saja berpengaruh pada perbedaan kepentingan yang dimiliki oleh masing-masing partai.

Partai Israel Beitenu yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Avigdor Liebermann, pada saat kampanye menjanjikan peluang bagi rakyat Israel untuk dapat menikah secara catatan sipil dan kemungkinan diizinkannya jual beli daging babi di Israel[2]. Kedua butir program Lieberman tidak dapat diterima Partai Shas yang berhaluan ultra ortodoks. Di sisi lain partai tersebut menginginkan agar kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Netanyahu lebih memihak kalangan ekonomi lemah. Tentu saja ini bertentangan dengan dasar Partai Likud yang mendukung pasar ekonomi bebas dan tidak setuju dengan kebijakan ekonomi berdasarkan sosialisme.[3]

Perbedaan-perbedaan kepentingan inilah yang dapat mengancam legitimasi Netanyahu sebagai perdana menteri. Apabila perbedaan kepentingan tersebut tidak dapat dijembatani, maka legitimasi Netanyahu di dalam negeri dapat terancam. Karena partai yang tidak puas pada pemerintahan Netanyahu dapat menarik dukungnannya dari koalisi dan dapat mengusulkan diadakannya pemilu lagi.

 

 Karakteristik Kebijakan Luar Negeri Netanyahu

Terpilihnya Netanyahu sebagai perdana menteri Israel saat ini, dapat dikatakan tidak memberikan perkembangan berarti bagi proses perdamaian antara Israel-Palestina. Di masa pemerintahan Netanyahu terdahulu, yaitu periode 1996-1999, terbukti bahwa Netanyahu menyesampingkan perjanjian-perjanjian damai yang diajukan oleh konsensus internasional seperti Perundingan Wye River I yang ditandatangani di Washington pada Oktober 1998. Perundingan ini kemudian dibekukan oleh Netanyahu setelah karena pihak otoritas Palestina dianggap tidak melakukan tindakan sebagai timbal balik yang telah dilakukan pihak Israel.

Sedangkan pada pemerintahan saat ini, Netanyahu tetap bersikap sama seperti pada masa pemerintahan sebelumnya. Selain itu, dalam pernyataannya pada saat menjadi pembicara di Universitas Bar Ilan, Netanyahu menyatakan bahwa Palestina harus mengakui eksistensi negara Israel. [4]

Walaupun dalam kebijakan domestik, partai-partai pendukung Netanyahu mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Namun, dalam kebijakan luar negeri, mereka mempunyai persepsi yang sama yaitu mereka menolak mengakui negara Palestina. Sehingga legitimasi Netanyahu dalam perundingan

 

B. Kondisi Domestik Palestina di Bawah Kepemimpinan Mahmud Abbas

Kondisi domestik Palestina di bawah kepemimpinan Mahmud Abbas begitu dipengaruhi oleh lemahnya legitimasi Mahmoud Abbas sebagai Presiden yang bukan merupakan pilihan mayoritas penduduk Malaysia. Selain kondisi domestik Palestina yang penuh dengan pertikaian dan penyerangan-penyerangan dari pihak Israel, di Palestina kala itu sedang bergulir isu yang sangat hangat untuk diprotes, yakni proyek pembangunan pemukiman warga Yahudi di Palestina

 

Karakteristik Kebijakan Domestik Fatah

Sejak meninggalnya pendiri Fatah, Yasser Arafat, kepemimpinan dipegang oleh Mahmud Abbas yang saat ini menjadi presiden otoritas Palestina. Karakterisitik kebijakan yang lebih disukai oleh Fatah sebagai organisasi sangat mempengaruhi langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh Mahmud Abbas baik di dalam maupun di luar Palestina.

Fatah sendiri merupakan organisasi politik dan militer di Arab Palestina, didirikan sekitar akhir tahun 1950-an oleh Yasser Arafat dan Khalid al-Wazir dengan tujuan untuk membebaskan Palestina dari kontrol Israel dengan melakukan perang gerilya dalam intensitas yang rendah.[5] Lebih spesifik lagi tujuan utama dari Fatah adalah sesuai dengan pasal 12 dari konstitusi Fatah yaitu “kemerdekaan Palestina yang utuh dan penghapusan keberadaan ekonomi, politik, militer dan budaya Zionis.[6]Pada bagian ini akan dibahas sekilas mengenai ciri khas kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Fatah baik di dalam maupun di luar Palestina.

Kebijakan domestik yang mewarnai Fatah adalah memunculkan (baik disengaja maupun tidak) beberapa organisasi dan pergerakan militer di Palestina. Meski demikian semua pergerakan dan mobilisasi dari Fatah selalu dikaitkan dengan ideologi Islam yang menjadi dasar Fatah. Sejak pemberontakan yang terjadi di Palestina pada tahun 2000, Fatah telah memadukan nasionalisme dan keagamaan sebagai instrumen mobilisasi.[7]

Sebagai contoh sebuah organisasi bernama “Elang” menggunakan simbol yang terdiri dari Masjid al-Aqsa yang menjadi simbol nasional Palestina, kemudian peta hijau yang melambangkan Palestina dan ayat al-Quran disekitarnya.[8]

Dengan melihat sekilas pembahasan di atas maka dapat dikatakan bahwa Fatah sangat menekankan perjuangan militer demi membela dan memerdekakan Palestina.

Meski demikian pada prakteknya Fatah justru lebih terbuka dan moderat daripada Hamas. Setelah kekalahannya pada pemilu legislatif dari Hamas pada bulan Januari 2006 organisasi tersebut mulai memperdalam makna keislaman yang menjadi dasar ideologinya demi mempertahankan legitimasi dan pandangan di masyarakat.[9]Dengan melakukan hal tersebut sepertinya Fatah berharap dapat setidaknya megimbangi kekuatan dan legitimasi yang dimiliki oleh Hamas sebagai pemenang pemilu legislatif tersebut. Meski demikian tampaknya akan sangat sulit bagi Fatah, terutama bagi Mahmud Abbas, saat ini untuk mendapatkan dukungan yang memadai dari masyarakat Palestina demi memperoleh legitimasi yang cukup untuk melaksanakan berbagai kebijakan dan program pemerintah.

 

Karakteristik Kebijakan Luar Negeri Fatah Terhadap Israel

Pertemuan Dasar Kebijakan Luar Negeri Fatah di Tepi Barat pada tanggal 11 Agustus 2009 menghasilkan sebuah dokumen yang berisi beberapa poin mengenai kebijakan-kebijakan yang akan diambil terhadap Israel. Secara garis besar dokumen tersebut menyatakan bahwa Gerakan Fatah menolak kampung halaman alternatif di Yordan dan menolak untuk menandatangani perjanjian apapun sampai semua tahanan yang dipenjara dibebaskan.[10]

Palestina dan Israel memulai perundingan di Washington pada bulan September 2010. Perundingan tersebut pada awalnya berjalan cukup mulus hingga terbentur masalah moratorium. Palestina berjanji tidak akan melanjutkan perundingan hingga Israel setuju untuk memperpanjang moratorium atau bahkan menghentikan sama sekali pembangunan gedung-gedung pemukiman di daerah Palestina.[11]

Hal lain yang memperparah buntunya perundingan adalah rendahnya legitimasi yang dimiliki Abbas. Secara mandat demokratis seharusnya Abbas tidak menjabat posisi sebagai presiden lagi namun dikarenakan pertentangan domestik mengenai pemilihan umum antara kubu Fatah dan Hamas maka sebuah pemilihan umum yang demokratis tampaknya sulit dilaksanakan. Kemudian kubu Hamas yang menguasai Jalur Gaza, tempat hidup 1,5 juta rakyat Palestina, sangat menentang perundingan itu sehingga akan semakin memperburuk keadaan.[12]

Melihat situasi tersebut, akumulasi dari rendahnya legitimasi yang dimiliki Abbas dalam perundingan ditambah syarat mutlak Palestina terhadap Israel untuk memperpanjang moratorium jika perundingan ingin tetap dilanjutkan tampaknya akan memberi harapan yang tipis bagi kelanjutan perundingan ini di masa depan.

 

C. Kondisi Domestik Amerika Serikat dibawah Pemerintahan Barack Obama

Masa dua tahun Obama menjadi Presiden Amerika, telah menghasilkan beberapa prestasi yang diklaim oleh pemerintahan Obama. Diantaranya peluncuran peraturan yang mengendalikan kerakusan korporasi Wall Street, peluncuran peraturan di bidang jaminan layanan kesehatan untuk melindungi minoritas, serta usaha pemulihan citra Amerika yang jatuh di dunia Internasional.[13].

Karakteristik Domestik Amerika Serikat Mengenai Isu Israel-Palestina

Keberadaan Amerika Serikat dalam konflik Israel-Palestina maupun proses perundingannya tidak dapat diacuhkan.  Walaupun banyak pihak menuding Amerika selama ini menerapkan standar ganda dalam menangani konflik di kawasan Timur Tengah,  posisi Amerika sebagai negara adikuasa diharapkan bisa menjembatani proses perundingan Israel-Palestina. Amerika selalu menjadi perantara dalam perundingan ini, seperti dalam perundingan Oslo I dan Oslo II. Harapan bahwa Amerika akan membantu proses perundingan semakin tinggi, ketika Barrack Obama Presiden Amerika yang terpilih menggantikan George Bush jr.

Harapan itu naik karena partai asal Obama yaitu partai Demokrat lebih dikenal terbuka dalam berbicara dan mempertimbangkan kepentingan serta kekuatan negara-negara lain dibandingkan Partai Republik yang lebih mengutamakan “otot” alias pendekatan militeristik. Contohnya pada rezim George Bush Sr. terjadi Perang Teluk, sementara anaknya Bush jr rezimnya telah menginvasi Irak dan Afghanistan.

Presiden Kulit Hitam pertama ini  dalam kampanyenya itu punya perubahan pendekatan terhadap dunia Islam, khususnya dalam menyikapi konflik Israel-Palestina. Berulangkali, Obama memang menyatakan akan lebih bijak menempatkan diri dalam konflik Timur-Tengah, dan berhati-hati dalam kebijakan  melawan terorisme. Ini dilakukannya untuk memperbaiki citra negatif Amerika yang suka mengandalkan hard power pada masa pemerintahan Presiden Bush jr. Dalam artikel Fatkurrohman yang berjudul Terorisme, Globalisasi, dan Kedaulatan Negara, upaya-upaya Obama dalam menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di kawasan yang dijuluki sebagai kawasan yang sangat konfliktual dan bisa kita katakan satu maqom (kelas) dengan wilayah Asia Timur. Kasus-kasus tersebut adalah konflik Palestina-Israel, nuklir Iran, dan terorisme.[14].

Harapan kepada Obama untuk membantu proses perdamaian antara Israel-Palestina juga diragukan oleh sebagian kalangan. Alasannya karena pada kampanye pilpres AS tahun 2008, kampanye pemenangan Obama banyak dibantu oleh pihak Yahudi. Ini membuat Obama terikat balas budi pada pihak Yahudi, sehingga Obama dituntut untuk tidak membela Palestina. Ini terbukti di dalam Pidato Inagurasi terpilihnya, Obama tidak menyinggung persoalan Israel-Palestina. Lobi-lobi Yahudi yang kuat juga mempengaruhi kebijakan Amerika agar menguntungkan bagi Israel, contoh lembaga lobi Israel adalah  AIPAC (The American-Israeli Public Affairs Committee) – yang disebut oleh Sandra Mackey dalam Passion and Politics: The Turbulent World of Arabs (1994) sebagai “The most powerful lobby in Washington.”

Walaupun Lobi Yahudi sangat kuat di AS, ada sebuah sinyal positif bahwa Pemerintahan Obama akan konsisten memperjuangkan proses perdamaian di Israel-Palestina. Ketika Netanyahu melakukan pembangunan 1600 pemukiman Yahudi di Yerussalem Timur (padahal wilayah itu akan dijadikan Palestina sebagai ibu kota), Wakil Presiden Joe Biden dan Menlu AS Hillary Clinton mengeluarkan pernyataan keras kepada Israel atas tindakannya yang membangun pemukiman. Mereka menganggap tindakan itu hanya akan merusak perundingan perdamaian.

 

Karakteristik Kebijakan Luar Negeri Partai Demokrat

Prestasi Obama tidak disambut positif bagi sebagian besar masyarakat Amerika, krisis yang berkepanjangan membuat mereka kecewa terhadap pemerintahan yang ada sekarang. Mereka menuntut pemulihan ekonomi secepatnya. Masyarakat mulai tidak setuju dengan kebijakan Obama yang memberikan dana talangan kepada bank-bank dan dua perusahaan otomotif AS, General Motors & Chrysler dengan menggunakan dana pajak. Jajak pendapat yang digelar CBS/The New York Times menunjukkan, 49 persen responden mendukung Republik dan hanya 43 persen yang mendukung Demokrat. Sementara jajak pendapat yang digelar AP/GFK, 13-18 Oktober menunjukkan, 59 persen responden berpendapat kebijakan pemerintahAS saat ini salah arah.[15]

Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Obama berujung pada kekalahan pemilu legislatif pada 2 November 2010 kemarin. Partai Demokrat yang semula menguasai mayoritas di parlemen, setelah pemilu legislatif kehilangan kekuasaannya setelah Partai Republik menguasai 239 dari 435 kursi di House of Representatif. Perubahan kekuasaan ini membuat Obama harus lebih berkompromi dengan lawan politiknya ini.

Chandra Muzaffar, ketua lembaga think thank International Movement for a Just World di Malaysia, berpendapat, Obama akan lebih banyak membuat lobi dan berkompromi. Republik akan memaksa Obama mengambil posisi yang lebih pro-Israel dan bersikap lebih keras dalam perang dagang dan mata uang dengan China.[16]

Israel bisa mengambil manfaat dari pergeseran kekuatan di parlemen AS, karena jika terjadi perbedaan pendapat antara Israel dengan pemerintahan Obama. Israel bisa bisa melobi melalui parlemen AS untuk menekan Obama. Bahkan kalangan Partai Likud Israel menganggap kekalahan Demokrat merupakan kemenangan bagi mereka.

Israel bisa melobi parlemen AS melalui anggota parlemen yang pro-Israel, Eric Cantor anggota parlemen dari partai republik dari Virginia adalah contohnya. “kami akan menekan pemerintahan Obama agar mau berkompromi dengan Israel soal isu keamanan” komentar Cantor kepada sebuah harian di Israel. Selain Cantor juga ada John Bohnner (Republik, Ohio), Ilieana Ros-Lehtinen (Republik, Florida).[17]

Kekalahan Demokrat ini membuat Obama harus lebih memfokuskan diri pada persoalan dalam negeri dibanding luar negeri, agar memperbaiki citranya agar terpilih lagi di pemilihan Presiden dua tahun yang akan datang. Tuntutan dari parlemen untuk bersikap lunak terhadap Israel, membuat AS akan kesulitan untuk menekan Israel agar melanjutkan perundingan apalagi  mencapai sebuah konsensus

D. Analisis Terhambatnya Perundingan Washington 2010

Dalam proses perundingan, setiap negara yang terlibat memiliki masalah domestik masing-masing yang menghambat jalannya perundingan. Masalah-masalah domestik ini, selain membawa implikasi yang sifatnya domestik, juga berimplikasi pada hubungan luar negeri negara-negara tersebut. Hal ini pada akhirnya menghambat proses perundingan damai.

Di Israel, sebab utama yang menghambat perundingan damai adalah haluan partai yang berkuasa. Pada saat Perundingan Washington berlangsung, partai pemerintah adalah Partai Likud. Partai Likud adalah partai koalisi dari partai dengan berbagai haluan. Walau begitu, dalam pandangan terhadap Palestina, partai-partai yang berkoalisi ini cenderung kompak menolak legitimasi Negara Palestina. Hal ini menyebabkan poilitik luar negeri Israel cenderung tidak terlalu giat mengejar perundingan damai. Tekanan domestik ini merupakan salah satu penghambat utama terhambatnya perundingan damai Israel-Palestina.

Di Palestina, terhambatnya perundingan Washington juga sedikit-banyak dipengaruhi keadaan domestik negaranya. Posisi Mahmoud Abbas sebagai pemimpin negara dengan legitimasi yang lemah memberikan tekanan tersendiri bagi dirinya untuk betul-betul memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Hal ini ditempuh Abbas untuk kembali meraih simpati dan memperkuat legitimasinya. Abbas bersikeras akan meninggalkan perundingan damai tersebut apabila tidak terjadi perpanjangan moratorium (masa penangguhan) bagi proyek pembangunan pemukiman Yahudi. Maka, tekanan yang berasal dari domestis Palestina terhadap Presiden Mahmoud Abbas menjadi rasionalisasi sikap ngotot Abbas dalam perundingan. Sebagaimana watak Israel  yang telah dketahui secara umum, pihak Israel tidak akan mau mengalah, atau memberikan ruang bagi Palestina untuk menjalankan kepentingannya secara bebas. Persinggungan tersebut akhirnya turut menghambat berlangsungnya Perundingan Washington 2010.

Amerika Serikat, walaupun bukan negara yang terlibat langsung dalam konflik, namun memiliki peran penting dalam proses perundingan Israel-Palestina. Selain sebagai sekutu dekat Israel, AS juga terkenal aktif menjadi pemrakarsa pembicaraan damai antara Israel dan Palestina. Hal positif dari keadaan domestik AS adalah berkuasanya Partai Demokrat yang dikenal lebih liberal dibandingkan Partai Republik yang konservatif. Namun nampaknya hal ini tidak cukup untuk membuat AS bisa lebih aktif dalam memprakarsai perjanjian damai. Sebab, lobbi ke pemerintah yang berpihak pada kepentingan Yahudi, khususnya Israel, sangat kuat di Amerika Serikat. Hal ini membuat Amerika Serikat sulit untuk bisa sepenuhnya netral dalam memfasilitasi perjanjian damai. Kecenderungan ini membuat Amerika Serikat belum bisa mendapatkan keperecayaan yang cukup dari masyarakat Islam dunia untuk menjadi penengah konflik Israel-Palestina.

Selain itu, hambatan juga muncul dari belum stabilnya keadaan ekonomi domestik AS. Semenjak krisis ekonomi global 2008, Amerika Serikat masih berusaha memperbaiki ekonominya. Kebijakan yang dilakukan Rezim Obama dianggap kurang efektif dalam mengatasi masalah itu, dan akibatnya tekanan domestik untuk masalah ini meningkat. Hal ini membuat pemerintah AS tidak bisa memberikan fokus yang cukup bagi masalah luar negeri, misalnya konflik Israel-Palestina. Dua hal ini, yaitu kuatnya lobi Yahudi, dan adanya masalah ekonomi di AS adalah masalah domestik yang menjadi penyebab utama Amerika Serikat tidak bisa secara optimal memfasilitasi Perundingan Washington antara Israel dan Palestina.

Pada intinya, masalah utama dalam perundingan ini adalah konflik kepentingan. Dalam level global, tentu setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing. Pada level domestik pun, ada konflik kepentingan di antara elemen-elemen domestik. Adanya konflik ini menyebabkan politik luar negeri negara-negara yang terlibat akan ditunggangi oleh kepentingan elemen-elemen domestik masing-masing negara. Kepentingan itu bisa berbentuk sekedar tekanan untuk lebih fokus pada keadaan domestik, bisa berbentuk tekanan untuk berpihak pada salah satu sisi dalam sebuah konflik, bahkan bisa juga berbentuk desakan untuk menolak berdamai dengan pihak musuh dalam konflik. Adanya kepentingan-kepentingan ini menghambat proses perundingan menuju damai.

 BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Perjanjian Washington pada September 2010 tidak berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi karena berbagai sebab, baik yang levelnya individu, domestik, maupun internasional. Pada level domestik, hambatannya adalah keadaan domestik negara-negara yang terlibat, yaitu Israel, Palestina dan Amerika Serikat.

Di Israel, penghambat utama adalah haluan partai yang berkuasa. Partai Likud adalah partai koalisi yang cenderung konservatif. Hal ini membuat Pemerintah Israel tidak terlalu giat mengejar perundingan damai. Di Palestina, faktor utama yang menghambat berlangsungnya perundingan Washington ialah rendahnya legitimasi Mahmoud Abbas di negara yang dipimpinnya sehingga memberikan tekanan tersendiri baginya untuk dapat bersikap tegas terhadap kepentingan negaranya, Dari Amerika Serikat sendiri, hambatan utama adalah kuatnya lobi Yahudi, serta belum pulihnya keadaan ekonomi Amerika Serikat. Hal ini membuat Amerika Serikat, selain tidak bisa sepenuhnya netral, juga tidak bisa memberikan perhatian yang cukup bagi keadaan di luar perbatasannya.

Berangkat dari sini, untuk bisa memulai pembicaraan damai, diperlukan campur tangan dari PBB. Sebab, adanya masalah-masalah domestik negara-negara yang terlibat membuat perundingan damai tidak berjalan dengan optimal. Hadirnya PBB diharapkan mampu menjadi penengah yang cenderung netral dan bebas kepentingan, walaupun tidak sepenuhnya. Selain itu, perlu dipertimbangkan juga untuk melibatkan NGO dalam perundingan damai. Hal ini diperlukan sebagai katalis perundingan damai yang selama ini terhambat karena adanya masalah domestik negara-negara yang terlibat. Adanya NGO diharapkan bisa menjadi penengah yang lebih netral dan bebas kepentingan, bahkan dari PBB.

Beberapa pihak mengungkapkan optimisme dan pesimisme. Di sisi optimisme, orang-orang ingin melihat seberapa besarkah political will dari Obama tentang penyelesaian damai di Israel-Palestina. Sementara di sisi pesimisme, orang-orang menganggap bahwa Obama tidak akan mampu berbuat banyak tentang Israel-Palestina karena lobi-lobi orang Yahudi dan sifat Israel yang keras kepala.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pustaka Literatur

Kompas, 1 November 2010. Artikel : Pemilu paling mahal dan kasar. h.8.

Kompas, 3 November 2010. Artikel : Obama berharap “keajaiban” akan muncul.

Kompas, 5 November 2010. Artikel : Obama mengaku salah. h. 8.

Kompas, 5 November 2010. Artikel : Israel menyambut hangat pemilu AS. h. 10.

Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Pustaka Maya

Deutsche Welle (online) 2010, Meski Suara Mayoritas, Kubu Nasionalis Israel Terpecah. <http://www.dw-world.de/dw/article/0,,4019562,00.html> , diakses pada 27 November 2010.

Encyclopedia Britannica, http://www.britannica.com/EBchecked/topic/202423/Fatah, diunduh pada tanggal 27 November 2010.

Fatah, Wikipedia.org, http://en.wikipedia.org/wiki/Fatah, diunduh pada tanggal 27 November 2010.

Fatah Meeting Foreign Policy Platform, MidEastWeb,http://www.mideastweb.org/fatah_program_2009.htm, diunduh pada tanggal 27 November 2010.

Haaretz (online) Full text of Netanyahu’s foreign policy speech at Bar Ilan, <http://www.haaretz.com/news/full-text-of-netanyahu-s-foreign-policy-speech-at-bar-ilan-1.277922>, diunduh pada 27 November 2010.

Ido Zelkofit, Fatah’s Embrace of Islamism, Middle East Forum, 2008,

Jewish Virtual Library (online) 1996, Likud Party Platform. <http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Politics/likud.html> , diakses pada 27 November 2010.

http://www.meforum.org/1874/fatahs-embrace-of-islamism , diunduh pada tanggal 27 November 2010.

Q&A: Resuming direct Middle East peace talks, BBC News, http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-11038890 , diunduh pada tanggal 27 Agustus 2010.

http://fatkurrohman.blogspot.com/2009_08_01_archive.html, Diakses pada pukul 4.52 pada 30 November 2010


[1] Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. h. 92

[2] Deutsche Welle (online) 2010, Meski Suara Mayoritas, Kubu Nasionalis Israel Terpecah. <http://www.dw-world.de/dw/article/0,,4019562,00.html> , diakses pada 27 November 2010.

[3] Jewish Virtual Library (online) 1996, Likud Party Platform. <http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Politics/likud.html> , diakses pada 27 November 2010.

[4] Haaretz (online) Full text of Netanyahu’s foreign policy speech at Bar Ilan, <http://www.haaretz.com/news/full-text-of-netanyahu-s-foreign-policy-speech-at-bar-ilan-1.277922>, diunduh pada 27 November 2010.

 [5]Encyclopedia Britannica, http://www.britannica.com/EBchecked/topic/202423/Fatah , diunduh pada tanggal 27 November 2010.

[6] Fatah, Wikipedia.org, http://en.wikipedia.org/wiki/Fatah, diunduh pada tanggal 27 November 2010.

 [7] Ido Zelkofit, Fatah’s Embrace of Islamism, Middle East Forum, 2008,  http://www.meforum.org/1874/fatahs-embrace-of-islamism , diunduh pada tanggal 27 November 2010.

 [8] Ibid.

 [9] Ibid.

[10]Fatah Meeting Foreign Policy Platform, MidEastWeb,http://www.mideastweb.org/fatah_program_2009.htm, diunduh pada tanggal 27 November 2010.

 [11] Q&A: Resuming direct Middle East peace talks, BBC News, http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-11038890 , diunduh pada tanggal 27 Agustus 2010.

 [12] Ibid.

[13]Kompas, 3 November 2010. Artikel : Obama berharap “keajaiban” akan muncul. h.1.

[14] http://fatkurrohman.blogspot.com/2009_08_01_archive.html

Diakses pada pukul 4.52 pada 30 November 2010

[15] Kompas, 1 November 2010. Artikel : Pemilu paling mahal dan kasar. h.8.

[16] Kompas, 5 November 2010. Artikel : Obama mengaku salah. h. 8.

[17]Kompas, 5 November 2010. Artikel : Israel menyambut hangat pemilu AS. h. 10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s